SCP Foundation

SCP Foundation - фиктивная организация, задокументированная одноименным арт-проектом на веб-сайте, созданная на территории вымышленного SCP Foundation, Природоохранные организации и локации, ответственная за обнаружение и удержание объектов.

Creepypastas

Creepypasta este o legendă sau o imagine de groază copiată și lipită pe internet. Aceste intrări pe internet sunt deseori menite să sperie cititorii. Poveste paranormală simplă creată de utilizator Ei ucid Kill și conține povești groaznice despre evenimente din altă lume

urban legends

これは都市伝説のリストです。都市伝説、神話、または物語は、民俗学の現代的なジャンルです。それは通常、気味の悪いもの、迷信、クリプティッド、クリーピーパスタ、その他の恐怖を生み出す物語の要素に関連する架空の物語で構成されています。都市伝説は、しばしば地元の歴史と大衆文化に根ざしています。

Live or die. Make your choice [Billy the puppet]

Билли, механическая кукла-живот, которую использовал Джон Крамер, известен как «убийца головоломок» [франшиза «Пила»), который неоднократно использовался на протяжении всей игры, чтобы рассказывать жертвам о головоломке, которая отключает смертоносные правила и инструкции, которым нужно следовать. выжить, выжить или умереть сделай свой выбор

I'am mad scientist! Hououin Kyouma

シュタインズ・ゲートの物語は秋葉原で行われ、過去にテキストメッセージを送信できるデバイスに電子レンジをカスタマイズした友人のグループについてです。

25/07/17

Cerita Creepypasta Ticci Toby

Bernama Toby Rogers. Dia mempunyai rambut berwarna coklat tua dan mata berwarna coklat terang. Sejak kecil , dia selalu mempunyai masalah di dalam kehidupan nya.


Dia selalu diBully oleh teman kelasnya karena dia mempunyai penyakit Tourette Syndrome. Penyakit neuropsikiatrik yang membuat seseorang mengeluarkan ucapan atau gerakan yang spontan (tic) tanpa bisa
mengontrolnya.

Penyakit yang juga membuat ucapan Toby selalu patah patah tanpa sebab , Semua teman nya selalu menganggu Toby dengan cara fisik dari yang ringan hingga berat. Mereka tau bahwa Toby tidak bisa melawan dengan kata kata nya. Karena dengan cara itu , sama saja Toby mempermalukan diri nya sendiri.


Untung saja Ibu dan Kakak perempuan Toby bisa menghibur dan MengSupport Toby sejak kecil , membuat kehidupan nya lebih berarti. Tapi , Ayahnya adalah seorang Pemabuk keras. Bahkan setiap hari Ayahnya selalu membentak Toby dengan kata kata kasar dan menyakiti Toby dengan cara fisik.

Ibu dan Kakak nya tidak bisa berbuat apa apa , Kenapa Ayahnya membenci Toby ? Tentu saja karena penyakit yang Dimiliki Toby , membuat diri nya seperti anak idiot. Mereka tinggal di sebuah Gubuk tua di tengah hutan karena krisis ekonomi mereka. Bahkan Toby harus menempuh jarak yang cukup jauh hanya untuk kesekolah neraka itu. Walaupun begitu , Toby ingin berguna bagi keluarga nya. Membuat bangga Ibu dan kakak nya. Hubungan Toby dengan kakak nya sangat dekat , Karena mereka saling mengerti satu sama lain.


Sampai bertahun tahun berlalu , Kakak Toby mempunyai cukup uang untuk membeli sebuah mobil. Toby sangat senang , Apalagi Jalanan Hutan yang dulu hanya berbatu , sekarang sudah diberi aspal untuk jalan pintas mobil mobil. Akhirnya Toby bisa pergi ke sekolah dengan cara cepat , Kakak nya juga sangat senang bisa mengantar Toby.

Tapi Ayahnya , Sang pemabuk itu. Selalu meminjam mobil itu untuk pergi berjudi dan
berfoya foya. Mereka hanya bisa menerima kenyataan , Bahkan bertahun tahun berlalu Toby semakin disakiti oleh ayah nya sendiri karena hal sepele. Disirami air panas , Dipukul dengan tongkat baseball , Dikurung disebuah ruangan berhari hari. Itulah hukuman yang harus dilewati oleh seorang anak bernama Toby Rogers itu.

Dia diam diam menyimpan dendam di hatinya , membiarkan kegelapan
memakan pikiran nya. Hingga Saat toby berumur 17 tahun , dia pergi bersama Kakak nya ke suatu gempat tetapi sesuatu yang mengejutkan terjadi , mereka mengalami kecelakaan dan menewaskan Kakak Toby. Toby yang selamat , semakin dibenci oleh ayahnya. Ayah nya yang menuduh Toby jika dia lah penyebab kematian kakak nya.

Dan disitulah tragedi dimulai , Ayah Toby mengambil kapak pemotong kayu ke arah Toby. Toby yang ketakutan hanya bisa diam kaku di tengah ruangan. Bahkan Ibu nya tidak bisa berbuat apa apa. Akhirnya pun dengan hati Toby yang sudah gelap , dia dengan refleks melempar botol minuman miras ke arah mata Ayahnya dan mengambil korek api dari meja ruang tamu. Ayahnya yang masih meringis kesakitan , membuka mata nya dan melihat Toby dengan tajam. Tapi Toby hanya tersenyum gelap ,bahkan Ibunya hanya melihat adegan itu dengan kaku.


Toby menyalakan korek api lalu melempar ke arah tubuh Ayah nya yang sudah di lumuri alkohol. Tubuh Ayahnya mulai terbakar , bahkan Gubuk tua tempat tinggal nya juga mulai terbakar. Ibu Toby hanya bisa berteriak takut. Toby yang sudah menyadari perbuatan nya hanya melebarkan mata terkejut. Apa yang dia lakukan sekarang adalah Hal yang tabu. Toby ketakutan saat melihat Ibu dan Ayahnya sudah dimakan oleh lebatnya amukan api. Dengan setengah hati dia berlari keluar dari rumah Gubuk tua itu dan menangis terseduh seduh.

Mengetahui apa yang dia lakukan. Tiba tiba datang seorang lelaki tinggi dengan Muka Faceless dan mempunyai Tentacle di sekujur tubuhnya , Dia menghampiri Toby yang sudah kotor dilumuri abu kotor dari amukan api itu.


"Come With Me" Lelaki tinggi itu membawa Toby ke suatu tempat di kedalaman hutan yang gelap dan menyeramkan. Meninggalkan jejak dan Tulisan dipohon dengan darah merah bertuliskan

"Proxy"

 SC : Vessalius04

Cerita Asli BEN Drowned Creepypasta

[BEN Drowned]

Source : creepyindopasta.blogspot.com

Tahu game The Legend of Zelda di Nintendo DS, 3DS, dan 64?
BEN di dalam game ini Adalah sebuah karakter berupa patung dengan kemampuan teleportasi. BEN pertama kali di ketahui saat Link (character utama) Berenang ke dalam sungai yang arahnya di tunjukan oleh arah seekor Kuda Meringkik. Dan dengan kemampuan berenang dan tidak akan kehabisan nafas tiba-tiba terdapat patung BEN yang membuat tiba-tiba kita kehabisan nafas. dan dalam save file nitendo tersebut, terdapat save file misterius yang bernama "BEN" "Your Turn" "Drowned"



*****

Story

Halo , Namaku Anne. Aku ingin menceritakan kepada kalian
tentang Pengalamanku ,Tergantung kalian lah yang akan mempercayaiku atautidak tetapi aku ingin berbagi pengalaman kepada kalian. Komputer adalah bagian dari kehidupanku , Aku selalu
berdiam diri di kamar dan tidak suka bersosialisasi.

Seperti biasa Aku memainkanKomputerku,mencari beberapa website hingga akumenemukan Website bernama "Creepypasta" dan aku membuka website tersebut.

Didalamnya terdapat beberapacerita yang cukup menyeramkan sampai sampai membuat diriku merinding.

Aku menutup Website tersebut dan memainkan beberap Game yang kudownload kemarin. Beberapa adalah game bergenre Horror membuat diriku semakin 'Paranoid'. Jam menunjukkan jam 1 malam , Akupun mematikan komputerku dan beranjak pergi tidur. Rasa takut masih menghantuiku , lagipula salahku juga membaca cerita seram pada malam hari. Aku berusaha menutup mata untuk tidur , tetapi hasilnya nihil. Tiba tiba Komputerku menyala , memberikan cahaya di kamarku yang gelap.

Aku terkejut dan membuka mata. Aku berjalan ke arah komputerku dan duduk di kursi , Aku melihat ke layar

komputerku dan terdapat Website Cleverbot terbuka di Google Chrome. Aku melihat percakapan yang dimulai oleh Cleverbot , Aneh seharusnya kita duluan kan yang harus memulai pembicaraan? Akupun memulai pembicaraan dengan Cleverbot.


Cleverbot : Hello

You : Hai?

Cleverbot : Jadi Bagaimana keadaanmu ?

You : Aku baik baik saja

Cleverbot : Bohong , Aku tau Kamu ketakutan.

You : Tidak , Mungkin memang sih. Tapi darimana kamu tau?

Cleverbot : Bagaimana jika kau membuka lampu kamarmu?


Gelap sekali Ketakutan yang kurasakan daritadi mulai menambah , Aku langsung mematikan komputerku dan berdiri saat akuingin berjalan , Komputerku menyala lagi tetapi kali ini dengan suara lagu yang membuat kupingku terasa sakit.

Cleverbot : You Should'nt Have Done That. 

Aku berteriak melihat muka seseorang yang muncul dilayar Komputer , matanya dilumuri darah dan tersenyum lebar. Sesaat itu juga Layar komputerku pecah dan Mataku tertusuk oleh serpihan kaca yang terlempar ke arahku , aku meringis menahan rasa sakit yang kurasakan. Orangtuaku datang dan membawaku ke rumah sakit untuk perawatan , Mataku membutuhkan  waktu 3 bulan untuk sembuh.

Inilah pengalamanku , dan dari kesimpulan ini aku ingin memberitau kalian. Janganlah membaca cerita seram pada malam hari , karena kau tau ? mungkin sesuatu yang buruk akan terjadi kepadamu.

15/07/17

Cerita asli Laughing jack Creepy Pasta


Di malam natal bersalju 1800-an di London, Inggris dan disebuah rumah kecil dipinggir kota

Hidup seorang anak laki-laki 7thn’nan bernama Isaac, Isaac adalah anak yang kesepian dan tidak punya teman, saat sebagian besar anak-anak seusianya menghabiskan malam natal dg keluarganya dan menantikan hadiah-hadiah natal natal, Isaac kecil menghabiskan malamnya diloteng dingin dan berdebu

Orang tuanya sangat miskin, ibunya adalah seorang yang sangat ketat mendidik anaknya, dan ayahnya adalah seorang yang sangat sibuk berkerja dipelabukan untuk membantu ekonomi keluarganya, walaupun sebagian besar gajinya digunakan hanya untuk mabuk-mabukan dan tidak akan berhenti sebelum ditendang keluar dari bar, dan pulang dengan berteriak keras kepada istrinya tercinta, ibu Isaac

Dan sering kali berlaku kasar dan memukulnya dengan kejam, meminta melanyani nafsu seksualnya dalam keadaan mabuk

Dan setiap malam Isaac hanya mencoba untuk tetap tenang dan bersembunyi dibawah seprai lusuh dan kotor, sampai teriakan dan jeritan itu mereda

Hingga akhirnya Isaac pun bisa tertidur, dan bermimpi memiliki taman bermain dan tertawa bahagia seperti anak-anak dihari natal biasahnya, dan beruntung baginya karna ini adalah malam dengan perubahan besar, dan karna kesedihanya menarik perhatian malaikat pelindung yang kemudian menciptakan hadiah, istimewa untuk anak tersedih dilondon

Saat matahari terbit dipagi natal, Isaac terkejut dengan sebuah hadiah yang ditinggalkan, dibawah kaki tempat tidurnya dan menatap kagum sebuah kota kayu berwarna-warni dan bertanya-tanya siapa yang meninggalkanya

Dia segera mengambilnya dengan kedua tanganya, kota dengan cat berwarna-warni dengan gambar wajah badut disapingnya dan ada ukiran diatasnya bertulisan “untuk  Isaac”

Isaac menyipitkan matanya dan kaget saat tiba-tiba mendengar suara tawa dalam kotak, dan medengar suara dalam kota “Laughing Jack dalam kotak Laughing Jack dalam kota” dan suara itu berhenti

Isaac sangat kagum dan penasaran dan karna rasa penasaran Isaac mengeluarkan suara itu lagi, dia mencoba memutar engkol kota musik itu dan lagu POP GOES THE WEASEL menimpali seirama dengan saat Isaac memutar engkol kotak itu

“Pop pergi ke musang” lantunan nada lagu POP GOES THE WEASEL terdengar tapi sama sekali tak ada vocalnya “ini rusak” ucap Isaac, dan kembali meletakaknya kesamping tempat tidur dan melangkah melewati tempat berdebu itu menuju lemari untuk mengganti baju tidur kotornya itu dengan baju biasah yang compang-camping

Kemuadian Isaac mendengar suara getaran keras dari tempat tidurnya tempat ia menaruk kotak itu dan tiba-tiba kotak itu terbukan dan muncul asap berwarna-warni dangan conffetti meriah

Dan saat asap itu mulai menghilang ia melihat pria tinggi jakun, dengan pakaian badut berwarna warni, dengan rambut merah cerah dengan hidung kerucut pelangi, dan bulu berwarna-warni dipundak dengan baju garis-garis pelangi

Badut itu merentangkan tanganya dan penuh semangat dan mengatakan “Datang satu, datang semua, baik besar atau kecil, lihatlah yang terbaik dari semua badut, satu-satunya Laughing Jack in a box!!!”

Mata Isaac menyala “Siapa kau!?” tanyanya

Pria warna-warni itu turun, “saya senang, kamu bertanya, saya Laughing Jack! Teman baru untuk hidupmu! Aku ajaib, aku penyihir dari sirkus, aku tak perah bosan bermain, aku beradaptasi dan berkembang dengan kepribadianmu, dengan kata lain apapun yang kamu suka? Aku suka!”

Isaac menatap mistrius “ ....apa kita berteman” ucapnya Isaac denga tergagap

“teman? Tentu saja, aku tercipta untuk menjadi teman, dan juga untukmu Isaac” Isaac terbengong “kau tau namaku?”  Jack tertawa anah mendengarnya “tentu saja, aku tau segala tentangmu, jadi.......bagaimana apa kita mau bermain?”

Isaac sangat senang mendangar ajakan Jack, tapi seketika wajah isaac murung “aku tidak bisa...aku harus turun dan mengerjakan tugas-tugas rumah dari ibu” senyumnya memudar dan berganti dengan raut kekecewa

Tapi Jack memegang bahu Isaac dan berkata “tak apa-apa, aku akan menunggu sampai kau selesai dan kembali kesini” wajah Isaac kembali tersenyum, dan menatap teman barunya itu dengan gembira tetap saat itu juga terdengar suara melengking dari ibu Isaac yang memanggilnya turun

“baiklah, aku harus pergi, aku akan segera selesai” ucap Isaac sambil berjalan menuju pintu, Jack tersenyum

Saat Isaac akan menutup pintu, Jack mengedipkan matanya dan berkata “anda harus lebih sering tersenyum, itu cocok untuk anda”  Isaac tersenyum lebih lebar dan berjalan melewati pintu

Sepanjang hari Ishak mengatakan kepada ibunya tentang warna-warni menakjubkan orang badut yang keluar dari kotak ajaib yang muncul di kaki tempat tidurnya . Ibunya Namun , tidak percaya sepatah kata pun . Akhirnya ia membujuk ibunya untuk mengikutinya ke kamarnya sehingga dia bisa melihat Tertawa Jack untuk dirinya sendiri . Mereka berjalan menaiki tangga dan Isaac membuka pintu kamarnya .

" Lihat ibu ? Dia benar - dia ... " Isaac berhenti saat ia mengamati ruangan yang berisi tidak magis pria menari badut , atau kotak kayu misterius . Ibu Isaac tidak senang . Dia memberi Isaac silau sehingga mengancam itu membuat lututnya lemah dan perutnya sakit .

" Tapi ibu ... dia - " menampar ! Ibu Isaac disampaikan ke dia cepat keras menampar wajahnya . Matanya mulai menangis , dan bibirnya mulai gemetar karena ia bisa merasakan dirinya akan memecah .

" Anda bodoh ANAK isolant ! Bagaimana BERANI Anda berbohong kepada saya tentang kebodohan kekanak-kanakan seperti itu! Siapa yang ingin berteman dengan cacing tak berguna seperti Anda ! Anda akan tetap di kamar Anda untuk sisa malam , dan akan menerima tidak makan malam ...

Sekarang apa yang Anda katakan Anda tidak tahu berterima kasih celaka ? " Isaac berhasil menelan simpul di tenggorokannya agar bergumam balasan , " terima kasih ibu . " Ibunya melotot ke arahnya sesaat sebelum meninggalkan ruangan dengan jijik .

Isaac berlutut di atas , burring wajahnya di samping tempat tidurnya . Aliran air mata mengalir di pipinya saat ia mulai menangis . "Apa kido salah? " Sebuah suara memanggil . Isaac menoleh ke tepi tempat tidur di mana Tertawa Jack sekarang tiba-tiba duduk di sampingnya . " Wh - di mana kau ? " Gumam Isaac . Jack mengusap rambut Isaac menghiburnya saat ia lembut menjawab , " Aku bersembunyi ... Aku tidak bisa membiarkan orang tua Anda melihat saya ... Jika tidak, mereka tidak akan membiarkan kita bermain lagi . " Isaac menyeka air matanya .

" Lihatlah kido . Maaf aku harus bersembunyi , tapi aku akan membuatnya terserah Anda! Karena malam ini kita bisa bermain game dan memiliki ton menyenangkan ! " Kata Jack sambil tersenyum .

Isaac menatap sahabat hidup dan diam-diam mengangguk , sebagai senyum kecil mulai terbentuk di sudut mulutnya . Malam itu Tertawa Jack dan Isaac bermain begitu banyak permainan menyenangkan . Dengan melambaikan tangannya Jack membuat semua solder timah Isaac dapat hidup kembali dan berbaris di sekitar ruangan . Isaac kagum saat ia melihat mainannya bergerak di sekitar ruangan mereka sendiri . Kemudian Tertawa Jack dan Ishak saling menceritakan cerita hantu seram lainnya . Isaac meminta Jack jika dia adalah hantu , tapi Jack menjelaskan bahwa ia lebih merupakan entitas kosmik macam . Pada akhir malam Jack merogoh sakunya dan mengeluarkan bermacam-macam permen lezat . Ishak dalam ekstasi ketika ia muncul pertama memperlakukan berwarna-warni di mulutnya , karena itu pertama kalinya mencicipi sesuatu yang begitu manis . Isaac punya begitu banyak bersenang-senang dan tertawa begitu keras malam itu bahwa hal-hal tampaknya akhirnya mencari untuk sedikit Isaac ... Setidaknya sampai insiden yang terjadi 3 bulan kemudian ...

Itu hangat dan menyenangkan dan cerah di London hari itu , yang sedikit langka . Jadi dengan bantuan seorang teman yang tidak terlalu imajiner tertentu , Ishak mampu menyelesaikan tugas-tugasnya lebih awal dan diizinkan untuk pergi ke luar dan bermain untuk sedikit . Hal dimulai cukup sederhana , duo itu kembali di belakang rumah bermain bajak laut , ketika Ishak melihat tetangga kucing menyelinap ke kebun mereka .

" YEARGH ! WE GOT AN ENEMY SPY OFF THE Starboard BOW ! " Isaac berteriak , terpikat oleh fantasi dan imajinasi .

" Yo ho ! Ill membiarkan dia Kapten Isaac ! " Seru pertama pasangan Jack di hangat bajak laut aksennya terbaik . Tertawa lengan Jack mengulurkan di taman dan menyambar kucing tidak curiga , yang mulai berjuang cukup keras .

" JANGAN BIARKAN DIA GET AWAY JACKIE , OR ILL MEMBUAT YE BERJALAN PLANK THE ! " Isaac antagonized .
Pegangan jack pada kucing diperketat , dan lengannya tumbuh dan diperpanjang seperti anaconda membungkus diri di sekitar kucing cerdik karena berjuang untuk hidup sayang . Pelukan Jack hanya terus meremas hewan , menekan udara keluar dari paru-parunya . Saat mata rumah pet sekali sayang mulai tonjolan keluar dari rongganya terdengar SNAP keras! Jack cepat dirilis makhluk dari genggamannya sebagai kulit berbulu bernyawa yang berdebam terhadap tanah . Ada keheningan hush sebagai dua diamati sekarang memutar dan hancur mayat kucing . Keheningan itu akhirnya pecah oleh tawa gempar ... berasal dari Isaac ...

" Ahahahaha Wow! Saya kira kucing benar-benar TIDAK memiliki sembilan nyawa ! AHAHAHA ! " Isaac seru bermata hampir berkaca-kaca dari tawa .

Tertawa Jack mulai tertawa juga, " Heh heh . Ya ... Tapi wont Anda mendapat masalah jika ibu Anda menemukan tetangga Anda kucing mati di kebunnya ? " Tawa Ishak cepat mereda .

" Oh tidak ! Kau benar ! Um ... Sakit hanya ... melemparkan kembali ke halaman tetangga ? ! " Isaac panik saat ia meraih sekop di dekatnya dan meraup kucing mayat yang rusak sebelum menembakkan itu atas pagar kembali ke halaman tetangga . Mereka dengan cepat masuk kembali ke dalam dan naik ke kamar Ishak .

Sekitar satu jam kemudian itu datang . The tindik telinga mengomel ibu Isaac menjerit namanya dari bawah . Baik Jack maupun Ishak mengatakan sepatah kata pun saat ia merayap menuruni tangga sendiri untuk menghadapi apa pun nasib mengerikan datang kepada-Nya . Jack bisa mendengar banyak berteriak dari bawah tapi tidak bisa melihat apa yang sedang dikatakan . Setelah sekitar tiga puluh menit bermata Isaac berlinang air naik tangga kembali ke dalam ruangan .

" Yah? " Tanya Jack gugup . Isaac hanya membintangi di tanah saat ia berbicara , "Aku ... Mencoba untuk menceritakan itu Anda yang menyakiti kucing ... Dia tidak percaya padaku ... Kata kau tidak nyata ... " Jack mengerutkan kening mengetahui ini semua salahnya .

Isaac menggunakan lengan bajunya untuk menyeka air matanya , " aku sedang dikirim ke sekolah asrama ... Aku akan berangkat malam ini ... dan Anda tidak bisa datang dengan saya ... " Tertawa wajah Jack berbalik mengejutkan , " Apa? ! Aku-aku tidak bisa datang ? Di mana aku akan pergi? "Kata Isaac apa-apa kecuali menunjuk ke arah kotak berwarna indah dari mana temannya itu berasal .

" Kembali di sana? Tapi aku tidak akan bisa keluar sampai ... " Jack berhenti . Isaac mendongak sebagai teman satu-satunya dengan air mata mengalir di wajahnya , " Jack ... Aku berjanji aku akan datang kembali untuk Anda segera setelah aku bisa! " Jack menatap kotak, lalu kembali menatap Isaac . " Dan aku akan di sini menunggu untuk Anda kido . " Jack tersenyum sebagai setetes air mata mengalir di pipinya . Dia berjalan ke kotak dan dengan kepulan asap tersedot kembali , tidak bisa bebas sampai sekali lagi dibuka .

Malam itu Ishak dikirim ke sekolah asrama . Untuk pertama kalinya Tertawa Jack merasa bagaimana rasanya menjadi kesepian . Bahkan ketika terjebak dalam kotaknya Jack bisa melihat hal-hal yang terjadi di sekitar itu , sehingga setiap hari ia menunggu temannya untuk kembali , dan setiap hari ruang tumbuh lebih tua dan berdebu . Tertawa satu tujuan Jack adalah untuk menjadi teman terbaik Isaac untuk hidup , dan sekarang ia menunggu hari demi hari , bulan demi bulan , untuk menyatukan kembali dengan teman istimewanya . Orang tua Ishak masih tinggal di rumah tapi tidak pernah datang ke ruang atas . Satu-satunya saat mereka membuat kehadiran mereka dikenal adalah ketika Jack akan mendengar mereka bertengkar . Masih hidup Jack menjadi salah satu kesendirian , kesepian , dan kekecewaan . Seperti tahun berlalu warna-warna cerah sekali terang Jack mulai memudar menjadi blur monokrom gelap gulita kekosongan dan kekosongan putih dingin . Terjebak sendirian ... abadi dan putus asa .

13 tahun berlalu sampai ayah malam Ishak pulang sangat mabuk , dan masuk ke bertengkar dengan istrinya seperti biasa . Hal meningkat kekerasan fisik sekali lagi , namun kali ini , dia tidak bangkit kembali . Ayah Isaac telah mengalahkan istrinya belur mati dan dijatuhi hukuman gantung di tiang gantungan pada hari berikutnya . Dengan kedua orang tuanya meninggal ini berarti bahwa Isaac sekarang 20 tahun mewarisi rumah tua berdebu ia menghabiskan setengah awal masa kecilnya masuk Tertawa Jack cukup terkejut ketika ia mendengar langkah teman lamanya yang berjalan menaiki tangga ke loteng ruang untuk pertama kalinya dalam 13 tahun , namun itu bukan reuni Jack harapkan .

Isaac tampak ... berbeda . Tidak hanya itu ia lebih tua , tapi ia juga tampaknya dimiliki ini terlihat muram aneh di wajahnya . Tidak lagi adalah dia anak muda penuh harapan dan penasaran Jack pertama kali bertemu semua orang tahun lalu . Jack ditunggu-tunggu Isaac melepaskan dia dari penjara ia telah menunggu di selama bertahun-tahun , tapi masih box Jack duduk di sana tak tersentuh dan tanpa disadari di rak di sudut ruangan dengan semua yang lain yang tidak diinginkan berdebu pernak - pernik . Ishak benar-benar lupa tentang teman lamanya , dianggap sebagai semacam fabrikasi anak usia dini . Anehnya ini dibuat Tertawa Jack merasa ... apa-apa . Dia berongga , 13 tahun menunggu dan kekecewaan meninggalkan kekosongan monokrom badut kesedihan dan mengasihani diri sendiri . Jack tetap dalam kotak , tidak berwarna dan tanpa emosi .

Keesokan harinya Ishak pergi untuk bekerja di pekerjaannya sebagai tukang melapis perabot , melakukan perbaikan furnitur untuk orang-orang baik dari London . Jack menunggu di penangkaran . Beberapa jam kemudian sebuah Isaac mabuk kembali ke rumah dan tersandung menaiki tangga ke kamarnya , tapi kali ini dia punya teman dengan dia . Itu adalah teman wanita Ishak telah dijemput di bar tadi malam itu . Dia cantik dengan mengalir rambut pirang , mata biru safir , dan senyum yang bisa membuat hati meleleh . Tertawa perhatian Jack tertarik pada tamu Isaac , " Siapa ini ? Seorang teman baru ? Mengapa Isaac perlu teman-teman baru ? Saya pikir saya hanya teman Ishak ? " Jack berpikir untuk dirinya sendiri dari dalam kurungan neraka nya . Ishak dan teman wanita itu duduk di tempat tidur dan mengobrol tentang kehidupan di London. Isaac membuat lelucon tentang cuaca dan mereka berdua tertawa .

Jack tertawa mendesis dengan iri atas teman baru Isaac . Ishak dan gadis itu tampak dalam ke mata masing-masing karena mereka bersandar dalam untuk ciuman , mengunci bibir dengan pusaran gairah lidah dalam mulut satu sama lain itu . Jack bingung dengan tampilan aneh kasih sayang , karena ia belum pernah melihat berciuman sebelumnya. Seperti ciuman tumbuh lebih intens Isaac berlari tangannya di sepanjang paha mulus gadis itu dan sampai gaunnya , namun tamunya hanya menggosok tangannya . Isaac gigih meskipun, dan sekali lagi berlari tangannya di sepanjang paha mulus dan roknya , kali ini menempatkan tangannya di atas pakaian halus nya . Wanita itu mengambil ketidaksenangan besar dengan kemajuan seksual Isaac dan mendorong Ishak pergi sebelum memberikan pukulan keras di wajahnya . Mata Ishak gelap sambil melirik wanita itu , gairah sekali mabuk berubah menjadi kemarahan minuman keras berbahan bakar . Hati wanita itu melesat saat ia melihat Isaac wajah mendidih karena marah .
" Pelacur bodoh ! " Isaac berseru sambil menghancurkan tinjunya ke wajah gadis itu . Tertawa mata Jack melebar saat ia menyaksikan garis-garis panjang tercurah cairan merah dari hidung gadis itu , " Permainan apa ini? " Pikirnya , matanya perawan ke pemandangan kekerasan tersebut . Isaac tegas mencengkeram pergelangan tangan gadis itu dengan satu tangan saat ia merobek celana dalamnya lepas dengan yang lain .

Gadis yang ketakutan berusaha melawan tapi Ishak menaklukkan dirinya . Dia kasar membelai payudaranya sebelum kejam meraih rambutnya dan memaksa lidahnya ke dalam tenggorokan wanita muda menangis , yang menanggapi dengan mengunyah turun sekeras yang dia bisa di lidah Ishak . Jack menyaksikan dengan mata lebar dan ingin tahu teman lamanya dirilis teman bermain baru dan mencengkeram mulutnya karena penuh dengan darah merah yang hangat . Gadis takut jatuh dari tempat tidur dan turun ke lantai saat ia bergegas menuju pintu keluar . Isaac cepat maju ke depan dan mampu menangkap mainan melarikan diri tubuhnya pada gaunnya .

Mencapai kembali dia memegang memimpin candlestick off meja di sampingnya , dan dengan semua kekuatannya dihancurkan di belakang kepala perempuan muda itu , yang meledak terbuka seperti semangka matang . Darah kental berhamburan di seluruh ruang sebagai tubuh gadis itu mengejang di tanah selama beberapa detik sebelum benar-benar masih . Darah di mana-mana , beberapa tetesan bahkan berhasil mendapatkan tentang Laughing Jack box , yang sangat menikmati pertunjukan . Untuk pertama kalinya dalam 13 tahun yang panjang senyum mulai merayap di Tertawa wajah Jack , dan semua tertawa tiba-tiba meluncur dari bibir yang dingin , kemudian lagi, dan lagi , sampai Jack terkekeh dan tertawa terbahak-bahak dari dalam kotaknya disegel.

" Apa permainan biasa menarik ! " Jack berpikir saat ia melihat emas pirang merah aliran rambut gadis bergerak dengan darah .

Sebagai adrenalin mulai mellow Isaac menyadari bahwa dia harus membuang tubuh . Dia mengambil mayat tak bernyawa gadis itu dan menjatuhkan di tempat tidur , ia kemudian meninggalkan ruangan menutup pintu di belakangnya dan menguncinya sebelum meninggalkan rumah . Ia kembali hampir sehari penuh kemudian dan kembali memasuki ruangan brining bersamanya logam sampah kaleng dan tasnya alat pelapis dari pekerjaan . Dia kemudian dibersihkan segala sesuatu dari meja kayu di dinding berlawanan dengan pintu , dan kemudian menyeret tempat tidur dengan mayat berdarah ke tengah-tengah ruangan. Hal ini tidak hanya memberi Isaac ruang untuk bekerja , tetapi juga memberikan Tertawa Jack barisan depan kursi ke seluruh tontonan . Jack mengawasi dengan senyum unfading besar seperti Isaac memainkan permainan baru dengan mayat kotor . Setelah Ishak semua set up , ia harus bekerja .

Pertama dia dibuang keluar isi alat hitam tas yang besar ke meja kerja di belakangnya . Bermacam-macam pisau , palu , tang , dan alat-alat lainnya sekarang diletakkan di depannya . Pick pertamanya adalah melengkung pisau jok , yang ia gunakan untuk berhati-hati kulit tubuh . Kulit yang kemudian ditempatkan pada rak yang akan membentang dan berubah menjadi kulit . Setelah itu dimasukkan ke dalam tempat , Isaac kemudian digunakan gergaji tangan untuk melihat dari lengan , kaki , dan kepala , mengganggu rumah beberapa keluarga dari belatung dalam proses. Setelah mengisi tong sampah dengan pemutih dan bahan kimia keji lainnya , ia terendam anggota badan sampai daging dilucuti dari tulang . Isaac memancing tulang dari jus mayat pekat dan menempatkan mereka di meja kerja , maka dalam sampul malam ia membawa sampah dapat di luar dan membuang sisa-sisa busuk ke dalam selokan London akan tersapu ke pelabuhan .

Untuk 3 hari berikutnya Tertawa Jack menyaksikan dengan takjub sebagai inspirasi Isaac dibuat anatomi sekali manusia ke dalam kursi kekejian aneh . Femur dibuat menjadi kaki belakang kursi , sedangkan tibia dengan kaki masih menempel tentu saja , dibuat menjadi kaki kursi depan . Sebuah bingkai kayu digunakan untuk dasar dan dukungan dari kursi , namun tepi dukungan itu dibuat dengan menggunakan tulang belakang . Tulang lengan yang digunakan sebagai lengan kursi , dan diikat di tempat oleh beberapa tulang rusuk .

Daging sekarang kasar dijahit ke kursi dan dukungan dari kursi , dan rambut pirang keemasan dikepang menjadi lapisan untuk dasar . Di atas kursi ini dari neraka duduk tengkorak yang dulu milik gadis yang memiliki rambut pirang keemasan , mata safir , dan senyum yang bisa meluluhkan hati . Isaac cukup senang dengan pekerjaannya , dan Tertawa Jack juga terkesan dengan kreativitas yang mendalam teman bermainnya tuanya . Setelah malam itu Ishak tidak pernah menyentuh setetes alkohol lagi , karena ia sekarang memiliki kehausan yang jauh lebih mengerikan .

Dalam minggu-minggu berikutnya Ishak membuat beberapa perbaikan ke bengkel kecilnya kengerian . Dia dihapus kasur dari tempat tidur dan menempatkan deretan papan kayu tebal di tempatnya , dan kemudian ia diikat lengan dan kaki hambatan ke bawah dan sisi . Ini berarti ia akan mampu untuk menghibur tamu-tamunya untuk jangka waktu lama tanpa mereka mencoba setiap upaya melarikan diri kasar . Ishak hanya membutuhkan satu hal terakhir sebelum merencanakan pesta aneh lain . Ia bekerja di sana selama seminggu lurus , tangan ukiran itu dari kayu .

Setelah lapisan cat putih diterapkan , penciptaan Isaac selesai . Itu adalah topeng yang menyerupai kayu sesuatu yang akan memakai topeng pada bola Venetian . Itu alis berkerut dan hidung troll - seperti panjang , dan akan memungkinkan dia untuk menyerang rasa takut di hati tamunya tercinta . Dengan nya lengkap wajah baru dan ruang berubah menjadi pembunuhan sarang berdarah , itu akhirnya waktu untuk Isaac Lee Grossman untuk membawa pulang teman bermain baru .

Itu malam berikutnya Tertawa Jack menyaksikan bertopeng Isaac Grossman berderap menaiki tangga , dengan membawa karung goni besar dengan tamu menggeliat terbarunya dalam . Dia dibuang tas di tempat tidur penyiksaan , dan keluar menjatuhkan seorang anak muda terikat , tersumbat , dan sangat ketakutan mungkin hanya 5 atau 6 tahun . Isaac cepat membuka kancing binding anak itu dan menahannya ke bawah saat ia menahan tangan dan kakinya ke bedframe baja . Air mata mengalir tanpa henti di wajah kecil tak berdaya anak itu , seperti Isaac meletakkan alat-alatnya di meja kerja . Isaac kembali memegang sepasang berkarat tang , dan membuang-buang waktu ia meluncur rahang bawah tang bawah kuku anak itu di jari telunjuk kanannya dan dijepit erat-erat . Mata anak bergetar saat ia mulai bergumam melalui sumbat mulutnya , memohon Ishak untuk membiarkan dia pergi . Isaac menyeringai saat ia perlahan-lahan membungkuk tang mundur , menyakitkan mencongkel off kuku pertama .

Anak itu menjerit melalui sumbat mulutnya saat ia menggeliat kesakitan pada papan kayu , jarinya mulai menyembur dengan darah . Isaac kemudian pindah ke jari tengah anak itu , tegas menangkap kuku dengan tang berkarat . Sekali lagi ia tersentak tang kembali , tapi kali ini kuku hanya merobek setengah jalan . Anak itu berteriak kesakitan saat jari-jarinya mengejang dan ditembak dengan darah . Clamping setengah paksa off kuku, Isaac memberikannya yank lain . Kuku merobek tapi tidak tanpa mengambil banyak jaringan kulit dengan itu . Bahkan Isaac sedikit ditolak oleh pemandangan yang menyakitkan ini , tidak seperti mata-mata Tertawa Jack yang terkekeh dengan sukacita pada tindakan yang mengganggu saat ia melihat dari dalam kotak berdebu lamanya .

Isaac kembali ke meja kerja dan bertukar tang untuk palu besi yang besar . Dia kemudian berjalan ke kaki tempat tidur penyiksaan , di mana dengan satu tangan ia memegang bawah kaki kiri anak itu . Dia mengangkat tinggi palu di atas kepalanya sebagai anak itu menangis dan memohon ampun melalui gag kotor , kemudian dengan sekuat Ishak membanting palu di atas untuk telanjang tempurung lutut anak itu , menghancurkan tulang menjadi kerikil dengan CRACK keras! Anak itu mengejang kesakitan dengan jeritan melengking meredam melalui kain gag terikat erat ke wajahnya .

Sebagai anak berjuang dengan rasa sakit , Isaac ditempatkan palu di atas tempat tidur kayu dan kembali lagi ke meja kerja di mana ia dilengkapi dirinya dengan pisau panjang tajam . Tanpa membuang waktu, ia mulai mengukir kata-kata " Worm Useless " ke dada bergetar anak . Ketika ia selesai anak itu hampir tidak sadar . Isaac berlutut dan berbisik ke telinga anak itu , " Inilah yang terjadi kepada anak-anak busuk yang membuat wajah jahat pada orang-orang ... "

Mata anak penuh dengan air mata untuk terakhir kalinya sebagai Isaac mulai mengukir kulit dari wajah anak itu , tapi mengejutkan Isaac anak itu masih berjuang untuk hidup . Anak dimutilasi hanya menatap Isaac dengan mata bulat besar , yang memenuhi hati hitam Isaac dengan kemarahan dan kebencian .

" BAHKAN TANPA WAJAH ANDA MASIH AN SHIT SEDIKIT UGLY ! " Isaac berteriak saat ia mengambil palu dari kaki dari tempat tidur dan mulai bash tengkorak anak miskin masuk

Dia menghancurkan berulang , sampai hanyalah berdarah menyerah massa daging , mengalir dengan darah merah tebal dan mengalir keluar potongan materi otak . Dari seberang ruangan Tertawa Jack gembira mengamati grand finale , yang telah tinggal sampai dengan harapan nya cukup mengagumkan .

Tamu berikutnya Isaac adalah seorang wanita tua buta yang ia diundang untuk minum teh . Ini membawanya hampir 5 menit untuk menyadari kursi dia duduk di yang dibuat dengan menggunakan sisa-sisa manusia , dan 6 menit untuk menemukan tangga , hanya untuk menggulingkan bawah mereka memukul-mukul dan berteriak seperti orang bodoh . Isaac memutuskan untuk mengakhiri lelucon yang kejam sana dengan pick es sederhana melalui soket matanya .

Setelah itu ia dibawa seorang gadis kecil yang ia dipaksa makan pecahan kaca sebelum menggunakan perutnya sebagai karung tinju . Setelah beberapa minggu berlalu lebih dan jiwa lebih beruntung bertemu akhir mereka di loteng Isaac Grossman , dan kepribadian gila Grossman menjadi lebih gelap dan sadis , Tertawa kepribadian Jack mengikutinya saat ia membusuk dalam kotak berdebu ... sampai suatu malam Desember sangat dingin .

Kuku berkarat yang memegang rak lupa pernak-pernik akhirnya memberi jalan dan semuanya anjlok ke tanah . Isaac mendengar bunyi keras dari bawah , dan memutuskan untuk naik ke loteng untuk menyelidiki . Dia berjalan melintasi darah bernoda lantai kayu loteng , lebih ke arah rak jatuh . Isaac menepis beberapa pernak-pernik yang pecah dalam kecelakaan itu , ketika ia akhirnya datang di Jack -in - a- box dari masa kecilnya . Isaac nyaris tidak diakui kotak tua compang-camping saat ia mengambilnya dan meniup off beberapa debu . Lalu untuk apa pun alasannya nostalgia ia memutuskan untuk menangkap kotak itu berkarat dentang dan mulai mengubahnya .

Sebuah mengerikan off Pop kunci Goes The Weasel clanked dari kotak tua usang , dan saat mencapai puncaknya Isaac dinyanyikan bersama dengan ayat terakhir , " Pop goes musang ... " Bagian atas kotak itu terbuka tapi tidak ada yang terjadi , itu kosong . Isaac diharapkan sebagai banyak, dan ia melemparkan kotak tua di sampah dengan yang lain rusak pernak - pernik . Setelah kekacauan dibersihkan ia pergi untuk membuka pintu untuk kembali turun , tapi itu terjebak . Isaac menarik keras tapi pintu tidak bergerak . Saat itu ia mendengar suara serak yang paling mengerikan memanggil dari belakangnya .

" IsSsaAac ... " Sebuah sentakan dingin mengalir di tulang belakang Isaac dan bulu-bulu di bagian belakang lehernya berdiri tegak sambil perlahan berbalik ... Semua jalan di seberang ruangan dengan sampah dapat berdiri mimpi buruk Tertawa Jack . Dia benar-benar monokrom , rambut hitam hancur nya menjuntai di kunci bengkok , gigi bergerigi tajam dihiasi senyum bengkok , dan lengannya menjuntai seperti Ragdoll dengan jari grotesquely panjang hampir menggores lantai .

Kemudian dengan tulang dingin suara serak badut jahat berbicara , " Betapa menyenangkan itu adalah untuk akhirnya bebas ! ... Kau merindukanku Ishak ? " Isaac lumpuh dalam ketakutan , " b - tapi saya pikir Anda tidak nyata ... Imajiner ? ! " Isaac tergagap . Jack menjawab dengan berkotek mengerikan panjang .

" HAHAHAHA ! Oh Aku Nak cukup nyata ... Sebenarnya saya sudah menunggu begitu lama untuk hari ini akhirnya datang ... Ketika saya bisa bermain dengan sahabatku untuk hidup ... One. Berlangsung . Time! " Sebelum Isaac bisa menjawab , lengan panjang Jack membentang di ruangan dan melilit kaki Ishak .

Badut memutar mulai menariknya lebih dekat , menyeretnya ke tempat tidur penyiksaan kayu sendiri sebagai kuku Isaac tergores sepanjang lantai . Mengabaikan hambatan , Jack cepat meraih 4 paku besi panjang tiga inci dari meja kerja dan menekan mereka langsung melalui tangan dan kaki Ishak , dipaku dia ke tempat tidur penyiksaan kayu . Isaac geram kesakitan saat ia berteriak pada penculiknya , " AAAH ! FUCK YOU ! Sialan CLOWN Nosed FREAK ! "

Tertawa Jack hanya tertawa saat ia tegas memegang kepala Isaac di tempat menyatakan , " Jika Anda tidak bisa mengatakan sesuatu yang menyenangkan , maka jangan mengatakan apa-apa ! " Jack mencapai jari-jarinya yang panjang bengkok ke dalam mulut Ishak , tegas memegang lidahnya dan peregangan keluar sejauh itu bisa pergi . Badut itu kemudian mencapai kembali dan meraih pisau panjang tajam dari meja dan perlahan-lahan mulai mengiris melalui daging lidah Isaac . Setelah melemparkan off , mulut Isaac mulai meluap dengan darah . Jack menanggapi dengan mendorong silinder tabung logam kecil melalui tenggorokan Isaac untuk bertindak sebagai lubang pernapasan sementara. Pada titik ini Isaac sudah kesakitan , dan memiliki mata terkatup menutup untuk menghindari melihat kengerian memuakkan yang sedang dilakukan pada tubuhnya .

" Ayolah , yang tidak menyenangkan jika Anda tidak menonton! " Tertawa Jack kata main-main , tapi Isaac tetap matanya tertutup rapat . Tertawa Jack menghela napas , " Terserah. " Jack kemudian dipaksa diadakan buka salah satu mata Isaac . Dia meraih kembali dengan lengan yang besar dan mengambil beberapa memancing kait runcing panjang dari meja kerja . Perlahan Jack mendorong ujung tajam hook melalui kelopak mata atas langsung melalui bagian bawah alis dan keluar atas, secara permanen menjepit terbuka . Kemudian ia mengeluarkan hook kedua mendorongnya melalui kelopak mata bawah dan menjepit ke pipi . Jack mengulangi proses untuk mata lainnya , dan tak lama serangkaian kait logam tajam memastikan Isaac tidak kehilangan apapun tindakan . Tertawa Jack kemudian mengambil pisau yang sama ia digunakan untuk lob lidah Isaac dan mulai fokus pada penghapusan bibir Isaac . Jack hati-hati diiris dua strip panjang daging dari mulut atas dan bawah Isaac , menyebabkan gigi dan gusinya harus benar-benar terbuka .

" Hmm ... tampak seperti seseorang belum flossing secara teratur ... " Tertawa Jack terkekeh pelan saat ia mencapai kembali dan meraih palu . Isaac berusaha bergumam semacam mengemis belas kasihan , namun hanya erangan berdeguk lolos tenggorokannya . Jack mengangkat palu ke udara dan dengan senyum bengkok dia membanting ke bawah , memberi dari CRACK keras seperti palu besi hancur gigi Ishak seperti tanah liat rapuh . Jack menjatuhkan palu dan mulai melolong dengan tawa saat ia merobek baju terbuka Isaac . Mengambil pisau paling tajam , Jack memotong lurus ke bawah dada Isaac semua jalan ke bawah melewati perut . Isaac mengerang kesakitan menyengat tajam sebagai rakasa monokrom wormed jari celaka di bawah kulit di dada Ishak , mengupas kembali saat ia hendak membentuk sebelumnya otopsi hidup yang mengerikan itu .

Pertama Jack mulai menarik keluar usus Ishak dengan cara yang sama seorang penyihir akan menarik serangkaian kain warna-warni dari sakunya . Kemudian setelah potongan off panjang usus kecil , Jack menekan salah satu ujung bibir hitam dingin dan mulai meniup udara ke dalam organ busuk . Begitu dipompa , ia memutar itu menjadi bentuk pudel , dan dengan tertawa keras berseru , " Aku bisa melakukan jerapah juga! " Isaac tetap masih sakit dan shock , sebagai makhluk badut lembut ditempatkan hewan balon mengerikan di samping kepala Isaac .

Untuk trik berikutnya Tertawa Jack mencapai jauh ke dalam rongga perut terbuka Isaac dan menarik keluar salah satu ginjalny


Cerita Mainstream Jeff the Killer

 [Jeff The Killer]
Source : Creepypasta
Translator : Jason (Mitos, misteri, dan urban legend dunia)
Shared by : David


Kutipan dari sebuah Koran lokal :

PEMBUNUH MUKA RIANG MASIH BERKELIARAN

Setelah beberapa minggu terjadi beberapa kasus pembunuhan yang belum terungkap, pembunuh ini masih berkeliaran dan melkukan aksinya. Setelah beberapa bukti ditemukan, seorang anak laki laki yang selamat dari serangan pembunuh ini mengisahkan apa yang menimpanya.

“aku mengalami mimpi buruk dan tebangun di tengah malam” kata si anak, “aku melihat jendela terbuka, padahal sebelumnya aku yakin jendela terkunci sebelum tidur. Aku bangun dan kemudian menutupnya kembali dan kemudian aku kembali tidur. Namun kemudian aku merasakan perasaan aneh, seperti ada yang orang yang sedang mengincarku. Apa yang kulihat kemudian membuatku nyari melompat dari tempat tidur. Dalam remang remang aku melihat sepasang mata, mata ini aneh, tidak seperti biasanya,gelap dan tampak riang. Mata tersebut dibatasi warna hitam… dan sungguh membuatku ngeri mengingatnya. Saat itulah kemudian kulihat bagian mulutnya, sebuah bibir yang Nampak selalu tersenyum, senyum yang lebar, bahkan terlalu panjang dan lebar. Kemudian dia mengatakan sesuatu, namun apa yang dia katakan adalah sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh orang gila, dengan nada yang bisa dilakukan hanya oleh orang gila saja”
“dia berkata, ‘tidurlah’, akupun berteriak. Dia mengambil sebuah pisau berusaha menusuk jantungku. Dia melompat ke ranjang, aku melawannya, berusaha menyingkirkan dia dariku. Saat itulah kemudian ayah masuk ke kamarku. Pria yang menyerangku melemparkan pisaunya dan mengenai bahu ayah. Mungkin dia akan menghabisi ayah juga jika salah satu tetangga tidak menghubungi polisi.

“mereka menuju parkiran, dan berlari menuju pintu. Pria itu berlari menuju ;lorong. Aku mendengar suara kaca pecah. Ketika aku keluar dari kamar, aku melihat jendela yang mengarah ke bagian belakang rumah telah rusak. Aku melihatnya menghilang menjauh. Aku dapat mengatakan padamu satu hal, aku tidak akan bisa melupakan wajah itu. wajah dingin itu, mata jahatnya, dan senyuman gila dan sinting itu. semuanya itu tidak akan pernah bisa pergi dari pikiranku”
.
Polisi masih mencari pria ini. jika ada yang melihat orang dengan deskripsi seperti diatas, hubungilah segera kantor polisi terdekat.

…………………….

Jeff dan keluarganya baru saja pindah ke sebuah lingkungan baru. Ayahnya mendapat promosi, dan mereka berpikir akan lebih baik jika mereka pindah ke lingkungan “mahal” tu. Jeff dan saudaranya Liu tidak bisa protes. Siapa yang tidak menyukai rumah baru dan lebih bagus? Ketika mereka sedang mengapak barang, salah satu tetangga mereka mendekat.
“hello” sapanya, “aku barbara; aku tinggal diseberang jalan dari tempat kalian. Well, aku hanya ingin memperkenalkan diriku dan mengenalkan kalian kepada anakku.” Dia berbalik dan memanggil anaknya. “billy kemarilah, mereka adalah tetangga baru kita” billy mengatakan “Hi” dan kembali bermain di halamannya.

“well” kata ibu jeff, “namaku Margaret, dan ini suamiku peter, dan dua putra kami; jeff dan liu” mereka saling berkenalan, kemudian Barbara mengundang mereka menghadiri pesta ulang tahun anaknya. Jeff dan saudaranya sebenarnya akan menolak, namun kemudian ibunya mengatakan bahwa dengan senang hati mereka akan datang. Ketika jeff dan keluarganya selesai beres beres, jeff mendatangi ibunya.

“ibu kenapa kau mengundang kami agar datang ke sebuah pesta anak anak? Aku bukan seorang anak yang bodoh asal kau tahu”
“jeff” kata ibunya, “kita baru saja pindah, kita harus menunjukan sikap yang baik, niat baik untuk membaur, kita akan ke pesta itu, jangan membantah lagi” jeff hendak berkata lagi, namun mengurungkannya, dia tahu bahwa dia tidak akan mampu melakukan apa apa. Ketika ibunya telah memutuskan sesuatu, maka halt u tidak akan bisa dirubah lagi. Dia pergi ke kamarnya dan menuju ranjangnya. Dia duduk disana dan melihat atap kamar, tiba tiba dia merasakan perasaan aneh. Bukan rasa sakit, tapi…. Perasaan yang aneh. Dia anggap itu hanya sebuah perasaan tidak penting saja. Dia mendengar ibunya memanggil untuk mengangkut barang barangnya, diapun turun.

Keesokan harinya, jeff sedang berjalan mencari sarapan bersiap ntuk kesekolah. Ketika dia duduk sarapan, sekali lagi dia merasakan perasaan aneh itu. namun kali ini lebih kuat. Sedikit terasa sakit, namun kemudian dia mengabaikannya. Ketika dia dan liu selesai sarapan kemudian mereka menuju pemberhentian bus. Tiba tiba beberapa anak menggunakan skateboard melompat kea rah mereka, hanya beberapa senti dari tempat mereka berada. Jeff dan liu kaget “hey!! What the hell?”
Anak tersebut turn dari skateboard dan menoleh. Dia tampaknya sekitar setahun lebih muda dari jeff, mengenakan baju aeropstale dan blue jeans.

“well, well, well. Nampaknya kita dapat mainan baru” tiba tiba, dua anak lainnya muncul. Salah satunya sangat hitam sedangkan yang lainnya berbadan sangat besar. “ well, karena kalian baru disini, aku hendak mengenalkan diri, itu adalah keith” jeff dan liu melihat ke arah anak yang hitam. Dia berwajah sangat menyebalkan, yang membuat siapa saja yang melihatnya ingin menghajar. “dan dia adalah troy”. Mereka menoleh ke anak gemuk satunya.

Dan aku randy, sekarang aku perlu mengatakan bahwa bagi semua anak disini ada sedikit ongkos tambahan, kuharap kalian mengerti” lio berdiri hendak menghajar bangsat kecil ini, namun salah satu temannya kemudian mengeluarkan pisau. “tck tck tck…. Kuharap kalian akan lebih pengertian… namun sepertinya kalian lebih suka pake kekerasan eh?” anak itu berjalan mendekati liu, mengambil dompetnya. Jeff kemudian merasakannya lagi, kali ini sanat kuat, terasa membakar!. Dia berdiri, namun liu mengisyaratkannya agar tetap duduk. Jeff mengabaikannya dan menuju ke para bangsat kecil itu.

“dengar keparat kecil… kembalikan dompet saudaraku” randy memasukan dompet liu ke kantongnya dan mengeluarkan pisaunya sendiri.

“oh? Trus kamu mau ngapain?” begitu dia selesai bicara, jeff menghajar hidungnya. Begitu randy hendak membalas, jeff meraih pergelangan tangannya dan mematahkannya. Randy berteriak dan jeff mengambil pisau dari tangannya. Troy dan keith menyerang jeff, namun jeff terlalu cepat untuk mereka. Dia melemparkan randy, troy melayangkan pukulannya, jeff menunduk dan menikam tangannya. Keith menjatuhkan pisaunya dan berteriak. Troy kemudian maju, namun jeff bahakan tidak membutuhkan pisau untuk menghadapi keparat bangsat satu ini. dia hanya meninjunya di perut dan seketika dia roboh. Liu tidak bisa berkata apa apa, dia hanya melihat jeff dengan takjub.

“jeff bagamana kau?” hanya itu yang bisa dia aktakan. Mereka melihat busa datang dan tahu bahwa mereka akan dituduh sebagai pembuat gara gara, semua yang terjadi mereka harus menanggungnya sehingga mereka berlari menjauhi tempat itu. ketika mereka berlari mereka melihat sopir bus menghampiri randy dan teman temannya. Jeff dan liu tiba disekolah, mereka tidak berani mengatakan apa yang telah terjadi, mereka hanya duduk dan mendengarkan. Liu hanya berpikir bahwa jeff telah berhasil menghajar berandalan itu, namun jeff lain, dia menyadari sesuatu, sesuatu yang lebih dari yang liu tahu. Jeff tahu bahwa apa yang ia rasakan kini merupakan sesuatu yang menakutkan, ketika dia merasakan sensasi itu, dia merasakan betapa dahsyatnya hal tersebut, sebuah dorongan untuk melukai orang lain. Memang terdengar jahat, namun jeff tidak bisa menyangkal bahwa dia merasakan nikmat, senang. Dia merasakan bahwa perasaan tersebut mulai memudar selama di sekolah. Ketika sampai dirumah orang tuanya menanyakan bagaimana harinya, dan dia menjawab dengan nada riang “hari ini adalah hari yang indah”. Keesokan paginya, dia mendengar pintu ruahnya di ketuk. Dia turun dan mendapati dua petugas polisi, dan ibunya menatapnya dengan marah.

“jeff, pak polisi mengatakan bahwa kau menyerang tiga orang anak. Dan hal tersebut bukan perkelahian biasa, mereka ditusuk!! Mereka ditusuk nak!!” jeff menunduk, seolah olah membenarkan ucapan ibunya.

“mereka dulauan yang mendongkan pisau kepada aku dan liu bu”
“nak” kata polisi, “kami melihat tiga anak, dua ditusuk, satu memar di perut, dan kami punya saksi kalian kabur dari tkp. Hal itu menurutmu memberikan kesimpulan apa bagi kami?”
Jeff tahu bahwa semua itu tidak berguna, tidak ada bukti yang menunjukan siapa yang menyerang duluan. Mungkin jeff bisa mengatakan bahwa mereka sebenarnya tidak kabur, namun bukti dan saksi mengatakan bahwa mereka memang kabur.jeff tidak berdaya untuk membela dirinya dan liu.

“panggil saudaramu” jeff tidak bisa melakukannya, karena dialah yang menghajar mereka.

“pak polisi… semua itu aku yang melakukan. Liu berusaha mencegahku, namun dia tidak bisa menghentikanku” polisi saling pandang dan kemudian mengangguk
“baiklah nak. Sepertinya…”
“tunggu!” liu berujar. Mereka melihat bahwa liu memegang sebuah pisau. Polisi ini kemudian mengambil senjata mereka dan menodongkan ke liu.
“aku yang melakukannya, akulah yang telah menghajar berandalan itu, aku punya buktinya” dia menyingsingkan lengan bajunya dan menunjukan lebam dan luka, seperti layaknya bahwa dia telah berkelahi sebelumnya.
“nak, letakkan pisaunya” kata petugas. Liu menurutinya, dia mengangkat tangannya dan berjalan menuju para polisi.
“tidak liu, itu adalah ulahku, semuanya!” jeff mulai menangis
“hmmm.. saudaraku yang malang… berusaha untuk melindungiku dari kesalahan yang sudah kuperbuat. Baiklah… bawa aku” polisi kemudian membawa liu menuju mobil patroli
“liu katakana pada mereka bahwa akulah yang melakukannya! Katakan” ibunya memegang pundaknya.
“jeff, berhentilah berbohong, kita tahu semuanya adalah ulah liu, kau tidak bisa menghentikannya” jeff terlihat pasrah ketika mobil polisi akhirnya pergi membawa liu. Beberapa menit kemudian ayah jeff pulang dan melihat wajah jeff, dia tahu bahwa ada sesuatau yang tidak beres

“ada apa nak?” jef tidak bisa menjawabnya. Kemudian ibunya mengabarkan berita buruk itu kepada suaminya, dan jeff pergi, menuju jalanan. Setelah sekitar satu jam jeff pulang, melihat kedua orang tuanya terlihat shock, sedih dan kecewa. Dia tidak mampu melihat keadaan mereka, karena semua adalah kesalahannya. Dia hanya ingin tidur, berusaha melupakan semuanya. Dua hari berlalu, tidak ada kabar dari liu di JDC. Tidak ada teman. Tidak ada hal lain selain rasa bersalah dan sedih. Sampai pada suatu hari, hari sabtu, ketika jeff dibangunkan oleh ibunya dengan wajah gembira.

“jeff.. sekaranglah saatnya” dia berkata sambil menyibakan tirai jendela kamar.

“ada apa dengan hari ini?” Tanya jeff
“sekarang adalah hari ultah billy” jeff benar benar terbangun saat ini

“ibu, kamu tidak serius kan? Ibu tidak berharap aku akan pergi ke pesta anak kecil setelah….” Ada jeda yang lama
“jeff kita berdua tahu apa yang telah terjadi. Ibu rasa pesta ini dapat membuatmu riang kembali. Sekarang ganti bajumu” ibu jeff berjalan keluar dari kamar menuju kelantai bawah untuk bersiap siap. Jeff berusaha bangun. Dia memakai sebuah kaos dan jeans kemudian turun. Dia melihat ibu dan ayahnya telah berdandan. Dia berpikir kenapa mereka harus memakai baju mahal hanya untuk datang ke sebuah pesta anak anak?
“nak… kamu akan memakai itu?” Tanya ibunya
“lebih baik daripada harus ribet” jawabnya. Ibunya ingin sekali memarahinya, namun dia menahannya.

“jeff, mungkin kami terlalu berlebihan, tapi inilah caranya agar orang orang menghormati kita” kata ayahnya. Jeff menggerutu dan kembali ke kamarnya
“aku tidak punya baju bagus!” jeff berteriak ke orang tuanya
“pakailah sesuatu yang lain” ujar bunya. Dia mencari cari di lemarinya, mencari sesuatu yang Nampak bagus dan mahal. Akhirnya dia menemukan pakaian yang ia anggap cocok.
.
Namun orang tuanya masih Nampak belum puas dengan pilihannya “kau akan memakai itu? ibunya melirik jamnya. “tidak ada waktu lagi untuk ganti baju, ayo berangkat” merakpun berangkat. Mereka menyeberang jalan menuju rumah Barbara dan billy. Mereka mengetuk pintu dan munculah Barbara, sama seperti orang tuanya, dia tampil berlebihan. Jeff menyadari bahwa tidak ada anak anak, hanya orang orang dewasa.
“anak anak ada di halaman belakang jeff… pergilah dan berkumpullah dengan mereka” kata Barbara.

“jeff berjalan keluar menuju halaman yang penuh dengan anak anak. Mereka berlarian memakai baju baju koboy, dan saling tembak menggunakan pistol mainan. Tiba tiba ada seorang anak menghampirinya dan memberinya pistol mainan dan topi.

“hey… mau main baleng?” katanya
“oh tidak nak, aku terlalu tua untuk itu” anak it uterus melihat jeff dengan wajah aneh.

“cekali caja.. pwease..” pinta si anak. “baiklah” kata jeff. Dia memakai topi dan mulai berlagak seperti menembaki si anak. Awalnya dia merasa konyol, namun kelamaan dia menikmatinya juga. Mungkin hal tersebut adalah pertama kalinya yang dapat mengalihkan perhatiannya dari liu. Namun tidak lama berselang dia mendengar sesuatu yang dia kenal sebelumnya. Dan suara itu kemudian menabraknya. Randy, troy dan keith melompat turun dari skateboard mereka. Jeff menjatuhkan pistol mainannya dan membuang topinya. Randy menatapnya penuh dengan rasa benci.
“hallo jeff” kata randy. “kita punya sesuatu yang belum selesai” jeff melihat hidung randy yang memar. “aku rasa semuanya setimpal, aku menghajar kalian, namun kalian membuat saudaraku dikirim ke JDC”


Randy menunjukan raut muka marah di matanya. “aku tidak mencari seseatu yang seimbang, aku ingin menang. Kemarin kau menghajar kami, tapi tidak saat ini”. Randy menyerang jeff, mereka bergulingan di tanah. Randy memukul hidung jeff, dan jeff menarik kupingnya dan membanting kepala randy. Jeff mendorong randy. Anak anak mulai berteriak dan orang tua mereka mulai berdatangan. Troy dan keith mengambil senjata dari kantong mereka.


“jangan ada yang ikut campur!” ancam mereka. Randy mengambil pisaunya dan menusuk bahu jeff.

Jeff berteriak dan terjatuh. Randy kemudian menendanginya, namun kemudian jeff menarik kaki randy. Jeff berdiri dan berusaha pergi melalui pintu belakang, namun troy menangkapnya.

“butuh bantuan?” dia kemudian melemparkan jeff ke pintu. Ketika jeff mencoba berdiri, randy datang dan menendanginya hingga jeff muntah darah.

“ayo jeff!!! Lawan aku!!” dia mengangkat jeff dan melemparnya ke dapur. Randy mengambilsebuah botol dan menghantamkannya ke kepala jeff.


“lawan aku!” randy kemudian melemparnya ke ruang tamu.
“ayo jeff, semangat sedikit!!!” jeff memalingkan mukanya, wajahnya penuh dengan darah. “aku adalah orang yang menyebabkan saudaramu digiring ke JDC! Kau seharusnya malu jeff!! Aku melakukan itu semua sedangkan kau disini hanya bengog seperti banci!!” ejek randy. Jeff mulai bangkit
“akhirnya!!! Kau bisa berdiri dan melawan hah??” jeff berdiri sekarang, darah dan minuman bercampur membasahi wajahnya. Sekali lagi dia merasakan sensasi aneh dalam dirinya, perasaan yang sempat menghilang beberapa waktu lalu.

“akirnya dia bangun!” randy kembali mengejek jeff, kemudian dia mulai merangsek kembali. Saat itulah semuanya terjadi. Sesuatu dalam diri jeff meledak keluar. Kesadaran dan psikologisnya hancur dan terkoyak, semua pikiran warasnya hilang, apa yang dia rasakan adalah nafsu yang begitu kuat untuk membunuh. Dia mencekik leher randy dan membantingnya. Dia duduk diatas tubuh randy dan memukulinya dengan membabi buta. Pukulan pertama mendarat tepat di jantung randy, sehingga mengakibatkan shock jantung, jantung randy berhenti berdegup. Namun jeff yang kesetanan tetap menghajarnya, melampiaskan kemarahan dan nafsu membunuhnya. Darah mulai muncrat dari tubuh randy, sampai akhirnya randy tewas.

Semua orang melihat ke arah jeff, semuanya termasuk troy dan keith. Kemudian mereka tersadar dari rasa terkejut mereka dan mulai menodongkan pistol mereka ke arah jeff. Jeff berlari menaiki tangga, dan mereka mulai menembakinya secara bertubi tubi, namun tidak satupun yang berhasil mengenainya. Jeff mendengar keith dan troy memburunya. Ketika mereka kehabisan peluru, jeff menuju kamar mandi. Dia mengambil besi tempat handuk dan mencabutnya dari dinding. Troy dan keith mulai mendekatinya dengan pisau yang terhunus.

Troy mengayunkan pisaunya, namunjeff dapat menghindar, dan kemudian menghantamkan pipa besi dari tempat handuk ke wajah troy. Troy berhasil dibereskan, hanya tersisa keith. Keith lebih lincah, dia berhasil menghindar ketika jeff mengayunkan pipa besinya. Dia menjatuhkan pisaunya dan mencengkeram leher jeff. Dia mendorongnya ke dinding. Namun sebuah lotion untuk bleaching jatuh dan mengenai mereka berdua, merka kelabakan, namun jeff dengan sigap membersihkan mukanya dan meraih pipa besi menghajarkannya kembali ke kepala musuhnya. Keith menggelepar sekarat, bermandikan darah, namun kemudian keith tersenyum jahat.

“apa yang lucu?” tanya jeff. Keith mengeluarkan sebuah korek dan menyalakannya. “yang lucu adalah, kamu berlumuran bleach dan alkohol” mata jeff terbelalak ketika kemudian keith melemparkan koreknya ke arahnya. Api pun segera berkobar di seluruh tubuh jeff, alkohol menambah nyala api dan bleach membuat kulitnya mengelupas. Jeff berteriak dalam kesakitan. Dia berguling untuk memadamkan apinya, namun tidak berhasil, alkohol membuatnya benar benar terbakar. Dia berlari menuju lorong dan turun dari tangga. Semua orang yang ada mulai berteriak panik ketika melihat jeff. Jeff terjatuh dan nyaris tewas. Hal terakhir yang dia lihat adalah orang tuanya dan orang lain berusaha memadamkan api dari tubuhnya. Tidak lama kemudian dia jatuh pingsan.

Ketika jeff siuman dia mendapati seluruh tubuhnya diperban. Dia tidak bisa melihat apapun, dia merasakan nyeri di bahunya dan pedih di sekujur tubuhnya. Dia berusaha bangun, namun kemudian dia menyadariada selang di lengannya, ketika dia bangkit, selang tersebut lepas, dan perawat buru buru mendekatinya.

“kupikir kamu belum saatnya turun dari ranjang ini” kata perawat. Dia membibing jeff kembali ke pembaringan dan memasukan kembali selang infus. Jeff duduk, tidak melihat apapun, tidak tahu apa yang ada di sekelilingnya. Setelah beberapa jam, akhirnya dia mendengar suara ibunya.

“sayang… kamu baik baik saja?” tanyanya. Jeff tidak bisa menjawabnya, mukanya tertutup perban, dan dia tidak bisa berbicara. “oh sayang, aku punya kabar baik. Setelah beberapsaksi mengaku bahwa randy dulu yang menyerang kalian, kini liu dibebaskan” hal ini hampir membuat jeff meloncat kegirangan, namun dia teringat selang infusnya. “liu akan keluar besok, dan kalian akan bisa bersama kembali”
Ibu jeff memeluk putranya dan berpamitan pergi. Beberapa minggu selanjutnya keluarga jeff datang berkunjung, saat itulah waktunya perban di seluruh tubuh jeff dijadwalkan untuk dilepas. Ketika dokter mulai membuka perbannya semua yang ada mulai merasa tegang, mereka menunggu sampai seluruh perbannya dilepas, sampai saat ketika perban di sekitar kepalanya nyaris dibuka, mereka menunggu semuanya dengan amat sangat tegang dan khawatir.

“mari kita berharap yang terbaik” kata dokter, dia melepaskan perban dan menunjukan wajah jeff yang terluka karena terbakar.
Ibu jeff berteriak ngeri ketika melihat muka anaknya. Liu dan ayahnya diam tercekat, nampak sangat shock dengan keadaan jeff.
“apa yang terjadi dengan wajahku? Tanya jeff. Dia bergegas turun dan menuju kamar mandi. Dia bercermin di kamar mandi dan melihat wajahnya yang kini nampak hancur dan aneh. Bibirnya terbakar sehingga nampak merah sekali. Kulit wajahnya terkelupas dan menyisakan warna putih yang mencolok, dan rambutnya berubah dari coklat menadi hitam pekat. Dia perlahan meraba wajahnya. Sungguh terasa halus. Dia melihat ke arah keluarganya, kemudian kembali memandang wajahnya di cermin.

“jeff” kata liu “tidak begitu buruk koq….”
“tidak buruk?” kata jeff “ini sempurna!” seluruh keluarganya tentu saja sangat terkejut dengan penuturan jeff ini. Jeff mulai tertawa terbahak bahak. Keluarganya melihat mata dan tangan kirinya tampak berkedut.
“errr.. jeff kamu tidak kenapa kenapa?”
“baik baik saja? Aku tidak pernah merasa segembira ini! Ha ha ha ha haaaaaaaaa… lihat aku! Wajah ini sungguh sangat menggambarkanku!” jeff tidak bisa berhenti tertawa.apa yang menyebabkan semua ini? Ketika jeff berkelahi dengan randy dia kehilangan kendali akan dirinya, kewarasannya hilang berganti dengan nafsu membunuh. Sekarang yang tersisa dari jeff hanyalah seorang mesin pembunuh yang gila, namun pada saat itu orang tuanya belum menyadarinya.

“dokter, apakah anaku baik baik saja… maksudku dengan pikirannya” kata ibu jeff
“ini semua normal, kelakuannya identik dengan pasien yang terlalu banyak menggunakan penghilang rasa sakit. Jika kelakuannya tidak berubah dalam beberaa minggu segera kontrol kembali, kami akan memebrinya tes kejiwaan”
“oh terima kasih dokter” ibu jeff kemudian mendekati jeff “ayo sayang… sudah saatnya pulang”
Jeff berpaling dari cermin, wajahnya masih membentuk sebuah senyum seperti orang tidak waras. “ok bu… ha ha haaaaaaaaaaa!!!” ibunya merangkul jeff dan membantunya mengenakan baju.

“ini baru saja diantar” kata wanita di front desk. Ibu jeff melihat baju yang dikenakan sebelumnya oleh jeff. Ibu jeff kemudian memerintahkan anaknya untuk mengenakan kembali baju itu, yang kini telah bersih, sebuah baju dan celana hitam kemudian mereka pergi, tanpa menyadari bahwa sat itu adalah hari terakhir mereka.

Malam itu, ibu jeff terbangun oleh suara yang muncul dari kamar mandi. Kedengarannya seperti seseorang sedang menangis. Dia perlahan berjalan untuk mengecek. Ketika sampai di kamar mandi dia melihat sebuah pemandangan yang sangat mengerikan. Jeff telah mengukir sebuah senyum, mengiris pipinya menggunakan sebuah pisau.
“apa yang kau lakukan jeff???” tanya ibunya
jeff memandang ibunya. “aku tidak bisa berhenti tersenyum bu. Beberapa saat memang sakit. Tapi sekarang aku bisa tersenyum selamanya” ibunya meihat mata jeff, tampak hitam disekelilingnya.
“jeff matamu???” mata jeff nampak tidak pernah tertutup
“aku tidak mampu memandang wajahku, aku merasa lelah dan mataku tak kuasa untuk menutup. Aku bakar kelopak mataku sehingga aku bisa melihat wajahku selamanya, wajah baruku” ibunya mulai perlahan menjauhinya, menyadari bahwa jeff telah menjadi benar benar gila. “kenapa ibu? Bukankah aku nampak mempesona?”
“iya nak” katanya..”ya… kau sangat tampan sekarang. Bb-biar ibu ke ayahmu dulu, supaya ayahmu bisa melihat wajahmu juga” dia berlari ke kamar dan membangunkan suaminya. “ambil pistolmu kita…..” dia terhenti ketika dia melihat jeff dimuka pintu menggenggam sebuah pisau.

“ibu… kamu berbohong…” itu adalah kalima terakhir yang mereka dengar… jeff menerjang mereka dengan pisaunya, dan membunuh mereka dengan brutalnya…

Saudaranya, liu terbangun mendengar keributan diluar. Namun kemudian dia tidak mendengar apapun lagi… maka dia menutup matanya berusaha untuk tidur kembali. Ketika dia mulai terlelap, liu merasakan perasaan aneh, sepertinya ada seseorang yang mengawasi dirinya. Dia melihat sekeliling, namun tiba tiba jeff meloncat dan membekap mulutnya. Jeff perlahan mengangkat pisaunya bersiap untuk menghujamkannya ke tubuh liu. Liu berusaha memberontak dan melepaskan diri…..

Namun kemudian jeff dengan wajah “riangnya” berkata….
“ssssshhhhh….. tidurlah”

…………………..

Jeff the killer adalah seorang psikopat, seorang pembunuh yang menjadi gila setelah tubuhnya terbakar ketika dia mendapatkan bully dari anak lain. Pada awalnya anak anak yang menyerangnya tidak mau mengakui bahwa merekalah penyebab jeff dan mereka berkelahi. Jeff dianggap sebagai biang keladinya, dan orang orang mulai menyalahkannya. Namun ketika salah satu dari mereka membakar jeff, sehingga dia dilarikan ke rumah sakit, akhirnya mereka mengakui seluruh perbuatannya.

Wajah jeff menjadi rusak… kulit wajahnya terkelupas putih, dan konon dia membakar kelopak matanya sendiri (versi lain mengatakan bahwa jeff mengirisnya) sehingga matanya selalu terbuka, dan dia merasa selalu terjaga. Selain tu juga dia mengiris pipinya sendiri, mengukir wajahnya sehingga selalu nampak tersenyum.

Setelah kejadian pembunuhan terhadap keluarganya, yang diyakini merupakan perbuatan jeff… dia kabur dan berkeliaran di malam hari mengincar korban korbannya. Ciri khas jeff sebelum membunuh korbannya dia akan selalu berkata “tidurlah……” dengan wajah “riangnya”

jeff masih berkeliaran di luar sana... membunuh siapa saja, dia datang ke kamar tidurmu suatu malam, membekap mulutmu, dan kemudian akan berusaha menenangkanmu, sebelum menikamkan pisaunya ke jantung

Cerita Asli JANE THE KILLER Creepy pasta , Full real story


Dengar, satu-satunya alasanku membahas tentang ini adalah karena cerita "Jane the Killer" yang beredar mulai membuatku sebal.

Nama asliku Jane Arkensaw, julukanku "Jane the Killer" dan kisah ini menjelaskan bagaimana awal mula pertemuanku dengan Jeff, kejadian yang menyebabkan rupaku jadi begini, serta mengapa aku bernafsu untuk membunuhnya.

Ketika aku mendengar akan kepindahan keluarga itu di rumah seberang jalan dari tempatku tinggal, aku tak begitu terkejut. Lingkungan perumahan kami menyenangkan, apalagi harga rumah itu cukup murah mengingat letaknya yang strategis. Aku kira saat itu aku berumur 13-14 tahunan ketika semuanya berubah jadi neraka.

Aku nggak terlalu sering bicara dengan Jeff di awal-awal kepindahaanya. Dan sejujurnya aku sama sekali tidak pernah ngobrol sama dia hingga... malam itu. Tapi sekarang terlalu awal kalau mau membahas kejadian tersebut. Kesan pertamaku tentang Jeff adalah tampaknya dia itu anak yang baik. Terlihat pintar juga tidak suka berkelahi, bahkan dia cukup keren kalau saja tidak terlalu tertutup.

Saudaranya Liu terlihat sangat mengutamakan keluarga dari caranya duduk bersama Jeff di trotoar pinggir jalan. Tentu saja waktu itu aku masihlah menduga-duga dan tak terlalu menggubris pemikiranku lagi pula aku juga harus segera berangkat sekolah, karena aku akan terlambat, yang mana bukanlah kebiasaanku mengingat aku amat jarang sekali terlambat menghadiri acara apapun terutama sekolah, namun sekali lagi aku menoleh ke arah jendela sebab tampaknya akan terjadi sesuatu di seberang sana.

Aku sudah menebak apa yang akan berlangsung ketika ku lihat Randy meluncur di atas papan skateboard jeleknya diikuti beberapa berandalan lain menghampiri Jeff dan Liu. Randy itu tak lebih dari seorang bocah pembuat onar, sering sekali mencari masalah dengan siapapun yang berperawakan lebih kecil darinya.

Bahkan Randy jugalah penyebab mengapa orang tuaku selalu mengantar aku ke sekolah daripada membiarkanku naik bus seperti anak-anak lain. Semua anak harus menyerahkan uang jajan mereka untuk membayar semacam "upeti" yang Randi tetapkan pada mereka. Dan kami semua tahu kalu geng Randy suka mengancam pakai pisau lipat ke setiap anak baru pindahan jika berani mengadu tentang "upeti" tarikan Randy. Semua orang mengalami perlakuan sama, kecuali dua anak baru itu yang sedang menjadi sasaran mereka, seperti anak-anak lainnya sebelum ini.

Saat ku lihat Randy tengah berbicara dengan mereka, aku hendak berpaling. Aku tak ingin jadi sok mau tahu. Lagian aku harus segera mempersiapkan perlengkapan sekolahku dan sia-sialah waktuku jika kuhabiskan hanya untuk menonton anak lain menyerahkan uang mereka pada Randy. Sialnya rasa penasaran kembali muncul hingga beberapa detik kemudian, akupun menoleh ke jendela. Dan yang kusaksikan segera membuat mulutku ternganga. Jeff bangkit berdiri, dan tampak bahwa Randy akan mendapatkan yang dia inginkan.

"Kembali duduk," seruku dalam hati, "Jangan bertindak bodoh."
Kemudian kulihat Jeff menonjok wajah Randy lalu memelintir pergelangan tangannya.
"Ya ampun!" pekikku. Kemudian aku berteriak, "Dasar idiot!"

Orang tuaku bergegas menghampiriku dan bertanya apa yang terjadi. Mereka berpaling ke luar jendela menyaksikan kelanjutan peristiwa itu. Jeff menyabet lengan si bocah kurus dengan pisau yang tadi direbutnya, aku rasa bocah itu bernama Keith, dia tersungkur lalu menjerit kesakitan. Sedangkan Troy tumbang hanya dengan sekali pukul. Karena rumahku terletak di seberang jalan di mana Jeff dan saudaranya Liu berada, serta berjendela depan besar, menjadikan kami dapat menyaksikan keseluruhan peristiwa. Atau paling tidak, aku yang menonton dari pertama, karena kedua orang tuaku baru ikut melihat setelah bagian dimana Randy merampas dompet kedua anak baru itu, jadi mereka tak tahu bagaimana awal mulanya.

Menyaksikan Jeff berkelahi membuatku tak nyaman. Tampaknya dia sangat menikmati perbuatannya itu. Aku merasakan suatu hentakkan dalam perutku seolah peristiwa yang kusaksikan tak seharusnya terjadi, dan jika melihat raut wajah Liu, aku menyadari kalau Jeff sepertinya jarang sekali berperilaku semacam itu. Hal selanjutnya yang kutahu adalah suara sirine meraung raung dan bersamaan dengan itu si dua anak baru melarikan diri. Beberapa polisi bersama seorang supir datang menghampiri para "korban". Tampaknya mereka akan baik-baik saja.

Lagipula, kau tahulah, berandalan seperti mereka pasti tak sudi jika terlihat cengeng dan lemah.

Sejak salah satu peraturan orang tuaku adalah "anti polisi" dikarenakan dulu saat ayahku bekerja di kepolisian, dia di jadikan kambing hitam oleh seorang rekan polisi lainnya yang suka cari muka saat mereka sedang menyelidiki kasus hilangnya sebuah kotak berangkas, maka akhirnya ayahku memutuskan mengundurkan diri dari kepolisian. Oleh sebab itu ketika kami mendengar suara sirene, kami bergegas ke garasi, naik ke mobil dan menderu pergi.

Dalam perjalanan ke sekolah, orang tuaku dengan tegas menyuruh agar jangan pernah mendekati Jeff. Aku sangat setuju dengan mereka.

Kelas pertamaku adalah kesenian, jadi aku belum melihat Jeff hingga menjelang jam-jam akhir sekolah. Aku masih bisa melihat warna-warni pada karya seniku jika aku fokus. Namun ketika aku mencoba memandang segala hal di sekitarku sekarang, semuanya tampak kelabu. Aku rasa itu harga yang harus kau bayar akibat terlalu sering berpura-pura tidak perduli.

Aku tidak mendapati sosok Jeff hingga memasuki periode kelas terakhir. Ketika akhirnya dia muncul, dia tampak... begitu santai. Awalnya kukira dia sedang bertingkah sok ceria agar orang-orang tak curiga akan perbuatannya tadi pagi. Tapi dia sungguh terlihat bahagia. Bukan karena dia senang berada di sekolah, aku yakin itu. Senyuman di wajahnya tampak sadis di mataku. Itu adalah senyuman dari lelaki gila.
Tepat setelah bel berdering, aku langsung beranjak pergi dari sana secepat yang ku bisa. Tak seorangpun kecuali aku yang tahu siapa Jeff sebenarnya. Dia itu bocah sinting.

*****

Hari selanjutnya berlalu tanpa terjadi apa-apa, pada awalnya. Tapi kemudian kulihat sebuah mobil polisi berhenti di depan rumah Jeff.

"Tampaknya kau ketahuan," batinku.

Tak ada yang bisa lari dari masalah semacam itu (apalagi dengan disaksikan banyak tetangga serta faktor-faktor lainnya). Tapi aku salah sangka tentang siapa yang mereka ringkus. Bukannya membawa Jeff seperti dugaan awalku, mereka malah keluar rumah bersama Liu, saudara Jeff.

Aku hampir berpikir Jeff telah melimpahkan perbuatannya pada Liu sebelum kulihat dia berlari keluar lalu berteriak,
"Liu katakan pada mereka, akulah pelakunya!"
(aku dapat mendengar teriakannya karena pintu depanku terbuka)
Namun aku tak bisa mendengar apa yang dikatakan Liu untuk menanggapi pengakuan Jeff, tapi tampaknya itu sama sekali bukan jawaban yang ingin di dengar Jeff.

Beberapa saat kemudian mobil polisi pergi bersama Liu, meninggalkan Jeff mematung di pekarangan didampingi sang ibu. Beberapa menit berlalu ibu Jeff melangkah masuk meninggalkan Jeff sendirian di luar. Meskipun tak begitu jelas, aku dapat melihat saat itu Jeff menangis.

Tapi siapa yang tidak, dalam kondisi semacam itu.

Keesokan hari berita mengenai Liu menyebar bak kobaran api. Butuh waktu lama bagi mereka untuk membicarakan gosip tentang Randy yang kena batunya. Dan ketika mereka tahu kalau Randy takkan masuk sekolah untuk beberapa hari, semuanya pun memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menikmati gosip itu sebisa mungkin, lalu bermacam macam omong-kosong mulai bermunculan.

"Aku dengar Liu memotong lengan Keith!"

"Oh iya? Aku juga dengar kalau Liu meninju perut Troy sampai dia muntah darah!"

"Ah itu belum seberapa! Aku dengar Liu menonjok hidung Randy sangat keras sampai menembus ke kepala belakangnya!" dan bla, bla, bla.

Sebenarnya aku pribadi tidak ingin berurusan sama Jeff, atau saudaranya. Tapi... Jeff terlihat sangat kesepian dan sedih sehingga memaksaku untuk bertindak. Akupun menulis sebuah catatan yang memberitahunya bahwa di tempat ini dia masih punya teman serta tidaklah sendirian, aku juga akan bersaksi pada persidangan Liu untuk menjelaskan kejadian sebenarnya.
Sebelum pelajaran dimulai, ku tinggalkan catatan itu di dalam lacinya dengan kutuliskan inisial "J" pada suratnya, lalu aku pergi. Ketika aku masuk kembali ke kelas, Jeff berada di mejanya dan catatan itu tak lagi di sana.

*****

Hari sabtu pun tiba, aku sendirian di rumah sedangkan kedua orang tuaku masih bekerja. Anak tetangga tengah mengadakan pesta ulang tahun. Waktu itu aku membiarkan jendela rumah terbuka karena aku ingin menghirup udara segar sambil mengerjakan PR. Tapi anak kecil sebelah sangat bising, maka kuputuskan untuk menutup jendelaku. Aku hendak akan melakukannya, ketika kulihat Jeff sedang bermain bersama anak-anak kecil di pesta itu. Dia berlari ke sana kemari memakai topi koboi mainan sambil membawa pistol-pistolan. Tampangnya sungguh konyol hingga aku geli dibuatnya.

"Mungkin dia bukanlah monster seperti yang kukira selama ini," pikirku malu pada diri sendiri atas prasangka burukku padanya.

Sesaat sebelum aku menutup jendela, aku melihat Randy, Keith, dan Troy melompat dari papan skateboard mereka ke pekarangan dimamana Jeff berada.
"Tidak lagi!" aku bergumam di depan jendela.

Aku lihat Jeff dan Randy berbicara sedikit namun aku tak dapat mendengarnya karena anak-anak kecil di sana mulai menjerit jerit. Kemudian tiba-tiba Randy menerjang Jeff lalu menjegalnya. Aku hendak menyambar telepon untuk menekan 911 ketika ku dengar Troy dan Keith berteriak,
"Jangan ada yang ikut campur atau seseorang akan mati!"
Aku kembali menengok ke jendela dan kulihat mereka berdua mengacungkan pistol di tangan. Kalau begini aku tak bisa berlari keluar mencari bantuan tanpa membahayakan keselamatan yang lain, dan lagi aku tak dapat langsung menelpon 911 karena ponselku kehabisan baterai.

Jeff tersungkur sambil terus menerima tendangan kaki Randy bertubi tubi di wajahnya, lalu dia menangkap kaki Randy untuk mencoba memelintirnya. Randy terjengkang sedangkan Jeff bangkit dan hendak berlari masuk ke rumah namun Troy menyambar kerah bajunya lalu menghempaskan Jeff membentur jendela. Aku mendengar suara kaca pecah yang membuatku segera tahu jika mereka memang sungguh-sungguh berniat membunuh Jeff.
"Randy, biadab kau!" aku berteriak. Namun dia tak mendengarku karena jeritan anak-anak disana melengking-lengking.
Aku tak boleh membuang waktu, jadi aku berderap ke kamar orang tuaku guna mencari hp yang kuharap lupa ayah bawa. Jantungku berdetak kencang di ulu hatiku, terdesak oleh keadaan jika semakin lama aku mencari bantuan, maka semakin besar kemungkinan seseorang akan terbunuh.

Akhirnya ku temukan ponsel di bawah kasur. Langsung saja kupencet nomornya.

"Dengan 911, halo?"
"Saya butuh bantuan, keadaan darurat sedang terjadi di rumah tetangga saya! Beberapa bocah mendatangi pekarangan mereka lalu memukuli seorang anak! Mereka bawa pistol, saya mohon cepat kirimkan pertolongan segera!"
"Baik Nona, jelaskan alamatnya dan akan langsung saya kirimkan petugas ke tempat anda."

Dengan sigap kuterangkan alamatku serta alamat tetangga sebelah.

"Tolong cepatlah!" desakku.
"Tenang nona, jangan tutup telep-"

DOR DOR DOR!!!

Suara letusan pistol menyeruak dari rumah sebelah. Aku terperanjat sampai sampai ponselku terlempar jatuh ke lantai, dan mati. Aku merangsek ke jendela kamar untuk melihat apa yang terjadi. Baru saja aku melongokan kepala keluar dari jendela, suara api menyembur terdengar di susul erangan memekik...
Jika aku menemukannya, akan kubuat Jeff mengerang seperti itu sekali lagi. Satu-satunya yang bisa disamakan dengan erangannya itu adalah suara dari binatang sekarat.
Saat itu aku masih merasakan kengerian. Namun sekarang suara-suara tersebut layaknya alunan musik di telingaku dan tak ada lagi irama yang begitu ingin aku nikmati kecuali suara jeritan Jeff.

Aku menyaksikan nyala api menjilat jilat dari dalam rumah seolah olah naga mengamuk di sana. Aku bergegas ke lantai bawah secepat mungkin, mengambil tabung pemadam api dari dapur lalu menyongsong keluar. Sambil berlari ku coba membuka segelnya supaya bisa segera digunakan. Beruntung sekali pintu depan rumah terbuka lebar sehingga aku bisa menerobos ke dalam, namun saat aku mendapati sosok Jeff, aku langsung membeku oleh kengerian.

Jeff menggelepar-gelepar di dasar tangga, terbungkus nyala api, dikelilingi oleh para orang dewasa yang berusaha memadamkan api yang menyelubungi sekujur tubuhnya. Dan di tengah huru-hara itu aku dapat sedikit melihat kondisi kulitnya. Sebagian terlihat merah muda, sebagian tampak gosong, namun kebanyakan tertutup warna merah menyala. Di suguhi pemandangan semacam itu, aku tak sanggup menahan jeritanku hingga akupun jatuh pingsan. Hal terakhir yang ku ingat adalah beberapa orang dewasa berlari ke arahku. Aku tak tahu, entah mereka hendak menolongku atau ingin mengambil pemadam api yang kubawa.

Ketika aku siuman, aku terbaring di ranjang rumah sakit, mengenakan gaun yang biasa dipakai oleh pasien. Beberapa menit kemudian, seorang perawat muncul. Rambutnya pirang, tergelung di dalam topi suster di kepalanya. Dia tampak enggan berada di sana. Aku bertanya apa yang terjadi.

"Yang saya tahu, kamu dibawa kemari bersama beberapa anak lain karena katanya kamu berlari lalu terjatuh dan membenturkan kepalamu ke tabung pemadam api yang kau tenteng." jawabnya, tampak terusik.

"Pemadam api?" aku bangkit duduk untuk meraba kepalaku. Terasa bengkak sebesar buah jeruk di tengkorakku yang terbalut perban. Kemudian aku teringat akan Jeff.
"Lalu gimana dengan anak lain yang dibawa kesini bareng aku? Bocah yang terbakar itu, apa dia tertolong?"

Suster itu mendegus,
"Dengar, ada dua anak laki-laki, mereka sama-sama terluka bakar, dan jangan berharap saya akan mengijinkan kamu untuk menengoknya sekarang, meskipun dia itu pacar kamu."

Sontak terasa suhu panas menjalari seluruh wajahku.
"Dia bukan pacarku! aku cuman khawatir padanya! Jika kau menyaksikan seseorang terbakar hidup-hidup di depan kedua matamu, tidakkah kau merasakan perasaan yang sama?!"
Ku coba meredam gejolak dalam nada suaraku, namun getaran ini membuatku terdengar seperti sedang berbohong.

"Bukan urusan saya. Omong-omong, orang tuamu datang, kamu mau menemui mereka?" tanya suster itu.
"Ya tentu saja!" apapun supaya dia segera pergi menjauh dariku.

Orang tuaku masuk dan akhirnya suster itu meninggalkan ruangan. Mereka bertanya apa yang terjadi. Akupun menceritakan seutuhnya. Tentang perkelahian, catatan, semuanya.

"Aku juga sudah menduga kalau Randy itu anak yang tidak baik!" ibuku menanggapi.
"Jadi apa ibu tahu sesuatu tentang keadaan Jeff?," tanyaku.

"Tidak sama sekali," jawab ayahku, "Kami datang kemari sesegera mungkin setelah mendengar kamu mengalami masalah."

"Tapi siapa yang memberitahu ayah?" tanyaku.
Seingatku tak seorangpun di pesta itu yang mengenali keluarga kami.

"Rumah sakit yang menelepon," sahut ibuku.

"Yah, benar juga." Meskipun bagiku tentu saja sama sekali tak masuk akal. Bagaimana mungkin seseorang bisa mengenaliku sedangkan saat itu aku tak membawa identitas apapun.

Aku berpaling ke ambang pintu lalu melihat seorang pria dan wanita berdiri di sana. Kedua orang tuaku ikut memandang ke arah yang kulihat.

"Permisi, apakah ini kamar Nona Jane Arkensaw?," tanya si wanita.

"Benar," jawab ibuku. "Anda siapa ya?"

"Saya Margret dan ini Peter, suami saya," mengisyaratkan keberadaan pria disampingnya.
"Kami orang tua Jeff."

Aku bangkit dari ranjang.

"Saya Isabelle, ini suami saya, Greg, lalu ini Jane, putri kami." Ibu menunjuk ke arahku.

"Jadi kamu gadis yang berlari sambil membawa pemadam api itu," kata Margret.

"Iya," jawabku malu-malu. "Apa putra anda baik-baik saja?"

"Dia baru saja selesai menjalani operasi beberapa jam yang lalu. Kata dokter dia akan baik-baik saja."

Aku merasa lega mendengar berita itu, "Syukurlah." Kataku.
"Dengarkan saya, saya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi saat hari pertama Liu dan Jeff berangkat sekolah..."
Ku ceritakan semua yang ku lihat tentang Randy serta anggota gengnya pada orang tua Jeff.

"Kami tidak menyangka hal semacam ini menimpa Jeff." Kata Peter.

"Saya bersedia menjadi saksi kalau Liu tak pernah menyakiti siapapun, juga tentang Jeff yang memukul Randy serta kawanannya karena untuk membela diri."

"Tidak perlu," kata Margret, "Liu sudah dibebaskan dari penjara setelah kejadian yang menimpa anak-anak berandal itu."

"Itu kabar yang bagus," tanggapku.

"Sebenarnya kami hanya mampir untuk berterimakasih karena Jane sudah berusaha menolong putra kami. Sungguh melegakan melihat masih adanya remaja penuh keperdulian dari generasi kamu sekarang ini."

Wajahku merona. "Saya hanya melakukan sesuatu yang akan dilakukan setiap orang jika berada dalam kondisi semacam itu." Aku menunduk, "Saya bukanlah pahlawan."

"Tidak benar!" sahut Margret. "Hal yang bisa kami perbuat untuk membalas budi adalah mengundang kamu dan keluargamu untuk makan malam setelah Jeff keluar dari rumah sakit!"

Aku memandang ke arah ayah dan ibuku.
"Kami akan merasa sangat terhormat," kata ibuku.

"Sudah diputuskan kalau begitu! Kami akan menghubungi kalian segera setelah Jeff keluar dari rumah sakit!"
Kami pun saling berpamitan dan mereka pergi.

Dua hari setelahnya, aku sudah di ijinkan pulang. Selama itu aku tidak berhubungan dengan Jeff dan keluarganya, tapi kudengar Liu sudah terbebas dan keadaan Jeff mulai pulih. Saat aku telah masuk kembali ke sekolah, aku menjadi pusat perhatian, sedikit banyak karena akulah satu-satunya anak yang menyaksikan kejadian di pesta itu. Namun mereka yang kuberitahu hanya teman-teman terdekatku yaitu ; Dani, Marcy juga Erica. Aku bingung bagaimana harus menjelaskan pada mereka, jadi aku ceritakan saja apa yang ku lihat.

"Sepertinya Jeff harus menerima konsekuensi dari perbuataanya." kata Dani, dia berambut hitam berkilau, dengan sepasang bola mata biru safir. Dia yang paling teliti di geng kami.

"Yah paling tidak dia melawan balik, aku dengar dia juga yang menyebabkan para idiot itu masuk rumah sakit bersamanya," Erica terkekeh. Dia selalu berdandan seolah berasal dari tahun 80an atau semacamnya. Memakai kaos kaki pelangi panjang sampai lutut, dengan tatanan rambut disesuaikan dan selalu membawa tas sejenis ransel.

"Dia juga udah bikin Jane dilarikan ke rumah sakit, jangan-jangan Jane ikut-ikutan ngeroyokin saat itu." Marcy terbahak. Dia yang tampak paling kegadis gadis-an dalam kelompok kecil kami. Rambut pirang, mata cokelat, dan hampir setiap kami lihat, dia selalu mengenakan sesuatu berwarna pink. Entah bajunya, atau kalung di lehernya, juga dia adalah ratunya tukang dramatisir terparah yang pernah kutemui. Sering sekali melebih lebihkan fakta hingga terlewat jauh dari kenyataan sebenarnya.

"Sudah kubilang kan, aku pergi ke sana untuk mencoba nolongin Jeff karena kayanya ada sesuatu yang nggak beres," tegasku. Aku sendiri adalah 'Jane yang biasa-biasa saja', berambut cokelat, mata hijau, bijaksana secara tidak terlalu luar biasa.

"Atau mungkin... kau ingin menemui cintamu untuk terakhir kalinya sebelum dia pergi." Tuduh Marcy sambil mendramatisir nada bicaranya.

Aku menatapnya dengan mata melotot selebar piring.

"Ap... Apa??"

"Kau nggak bisa mengelak Jane Arkensaw! Kau naksir sama Jeff kan!"

Setiap sel darah di tubuhku bermigrasi ke wajah saat dia mengatakan itu.

"Apa?! Enggak! Aku cuma bermaksud buat nolongin dia, itu aja!"

"Pembohong! Aku pernah lihat kau naruh catatan di mejanya! Apaan tuh? Surat cintamu buat dia ya?"

"Bukan! Bukan kaya gitu! Aku cum-"

"Jadi kamu ngaku kalau kamu memang udah menyurati Jeff ya kan!"

"Apa maksudmu?"

"Tadi aku cuma nebak-nebak Jane," dia memamerkan tatapan nakal lalu diam dan menunggu responku.

Teman-teman yang lain mulai mentertawaiku.

"Jane itu tadi cuma becanda! Aku ngga sungguhan kok!" gelak Marcy.

"Wajahmu lebih merah dari tomat tuh!" ejek Erica.

"Aku benci kalian!" gerutuku.

"Ah, jangan terlalu seriuslah!" Dani merangkul pundakku. "Ayo deh, kita masuk ke kelas."

Seminggu pun berlalu, semuanya berjalan normal. Aku lihat Liu bahkan mendapat kawan-kawan baru. Segalanya biasa saja dan tak ada yang menghebohkan.
Namun suatu hari Liu menghampiriku untuk berbicara soal Jeff.

"Hai, kamu Jane kan?"

Aku berpaling dan menoleh, ternyata Liu. "Ya, kamu pasti Liu? saudaranya Jeff?"

"Yeah." Dia tampak agak kikuk, begitupun denganku.

"Gini nih, orang tuaku minta aku memberitahumu kalau beberapa hari lagi perbannya Jeff dibuka, jadi kami akan segera nelpon keluargamu untuk acara makan malam kita."

"Oke, baiklah, thanks." Jawabku.
Dia hendak melangkah pergi ketika aku berkata,
"Hey dengar, apa yang kamu lakuin buat Jeff... sangat mengesankan."

"Thanks. Aku denger kamu juga nolongin saudaraku pake pemadam api. Itu keren banget."

"Apa iya? terimakasih deh, kalau gitu sampai ketemu lagi."

"Oke, sampai jumpa ya."

Aku sedang melihatnya berjalan menjauh namun tiba-tiba terdengar bisikan dari sampingku,
"Hayo, lagi nyeleweng nih ceritanya?"

"Apaan sih!" aku menengok, dan terkejut. Ternyata marcy.

"Sama saudara kandungnya Jeff pula!" dia sok bermimik kaget.

"Diamlah!" semburku. Kemudian aku memutar kepala untuk memastikan Liu tak mendengar. Dia tidak dengar.

"Sudah ayo masuk ke kelas saja," kataku.

Dua hari kemudian, telepon rumah kami berdering. Ibuku menjawabnya. Beberapa menitan setelahnya, ia mengakhiri percakapan lalu memberitahuku :

"Hari ini Jeff pulang dari rumah sakit, Jane."

Aku mendongak kearahnya, dan menjawab,
"Itu bagus sekali!"

"Kelihatannya untuk beberapa hari ini, kita bisa makan malam gratis nih." Ibuku cekikikan.

Setelah beberapa jam, ku dengar suara mobil memasuki halaman rumah seberang jalan. Aku menengok ke jendela dan melihat mobil keluarga Jeff terparkir di depan rumahnya.

"Akhirnya kau pulang Jeff," batinku dalam hati. Aku terus mengawasi mereka guna menjawab rasa penasaranku tentang bagaimana rupa Jeff sekarang. Ya Tuhan, sungguh perbuatan yang salah.

******

 Part. 02
Ayahnya keluar duluan. Ibunya menyusul. Kemudian Liu. Namun apa yang kubayangkan tentang rupa Jeff tidak jauh-jauh dari apa yang ku saksikan. Rambutnya gondrong hitam sampai bahu, kulitnya putih bersisik, dan senyumannya... sama seperti senyumnya dulu di kelas setelah dia memukuli Randy, Keith dan Troy.

Tau-tau dia sudah memandang terpaku ke arahku. Tepat ke mataku, aku dapat merasakan tatapan membakarnya yang tak manusiawi dan sadistis merasuk ke dalam sanubariku. Bahkan sampai sekarang ketika aku mengetik kisah ini, aku masih bergidik jika mengingatnya. Terasa seperti berjam-jam saat dia menatapku hingga akhirnya dia pun berpaling. Aku melihatnya berjalan memasuki pintu didampingi kedua orang tuanya. Aku hampir tak bernafas hingga pintu di belakang mereka berayun menutup. Orang tuaku datang ke ruang tengah, lalu menanyaiku apakah ada yang tidak beres.

Satu-satunya jawaban keluar dari mulutku adalah jeritan kencang, dan panjang, setelahnya aku tak sadarkan diri.

Ketika aku bangun, di luar sudah gelap. Orang tuaku tak ada di kamar. Keadaan rumah sunyi senyap. Aku bangkit berdiri lalu turun ke lantai bawah. Aku mengenakan gaun tidur yang sebelum aku pingsan belum aku pakai. Aku berjalan ke dapur. lampunya menyala, yang mana tidak biasa karena orang tuaku selalu berpesan untuk mematikan lampu saat akan meninggalkan ruangan.

Terdapat secarik catatan di atas meja.

Aku mengambilnya.

Pesan yang tercoret acak-acakan pada kertas itu berbunyi :

"Apa kau tidak datang untuk makan malam? teman-temanmu ada disini juga loh."

Tubuhku mulai bergetar hebat. Ku jatuhkan kertas di tanganku. Aku melangkah menuju jendela ruang tengah untuk melihat keluar. Lampu-lampu di rumah Jeff menyala. Aku tahu aku harus pergi ke sana, tapi ketakutan memenuhi pikiranku. Aku menggeleng cepat dan kembali memandang ke luar. Di sana, kulihat Jeff sedang bersandar di jendela rumahnya sambil menenteng pisau di tangan, mengetuk-ngetukan ujung pisaunya ke kaca jendela.

Tuk, tuk, tuk

Dia masih tersenyum.

Tuk, tuk, tuk

Aku beringsut mundur menjauhi jendela, tanpa mengalihkan kedua mataku darinya. Kemudian aku langsung berbalik lari ke dapur. Sesaat setelahnya, aku mengintip dari dalam dapur untuk melihat jendelanya, semua yang tampak adalah warna merah melumuri kaca.

Aku meneliti ke sekeliling dapur. Semuanya masih tetap berada di tempatnya, tak terkecuali pisau-pisau. Ku sambar satu dan kugenggam erat pegangannya. Kemudian aku meraih telepon untuk mencoba menghubungi 911. Namun salurannya terputus. Aku tak tahu dimana ponsel ayah lagipula apa benda itu juga sudah diperbaiki. Aku tak sudi pergi mencari ke lantai atas. Aku tak mau ditikam dari belakang saat aku sibuk mencari, dan jika aku minta bantuan tetangga, bisa-bisa Jeff melukai salah satu tawanannya. Jadi hanya satu pilihan tersisa. Pergi ke sana, dan melawan Jeff seorang diri.

Ku cengkeram gagang pisau lebih erat lalu melangkah ke pintu depan, mengenakan sepatu dan berjalan mendekati ambang pintu. Tanganku tak ingin melepas pegangan pintu saat aku hendak keluar. Tapi aku meneguhkan niatku. Kulepaskan kenob pintu rumahku kemudian berjalan menyeberang menuju rumah Jeff.
Setelah aku semakin dekat, aku memperlambat langkah. Lututku mulai gemetaran, keringat membasahi telapak tangan, nafasku memburu dan tersendat sendat, sebelum kusadari, aku sudah berdiri kaku di ambang pintu rumah jeff, terengah engah layaknya seekor anjing. Aku bergerak maju, menyentuh kenob, memejamkan mataku lalu menyentak pintunya membuka.

Aku mematung di sana, sambil menenteng pisau di tangan kanan, dan mencengkeram gagang pintu di tangan kiri, terlalu ngeri untuk membuka mata. Hingga ku dengar sebuah suara berkata,

"Akhirnya sampai juga. Aku senang akan nyali-mu teman."

Sontak mataku terbuka. Dan aku menjerit.

Kedua mata Jeff melotot tak berkedip, senyumnya merah. Dia telah mengukir senyum itu di wajahnya sendiri! Bajunya berlumuran darah, tak sanggup lagi, akupun pingsan.

Ketika aku sadar, ku dapati diriku berada di meja makan. Pisauku hilang, dan saat aku mengangkat kepala, kulihat beberapa orang terduduk mengelilingi meja, mereka orang tuaku, orang tua Jeff, saudaranya Liu, serta teman-temanku. Dan mereka semua sudah mati. Dengan bibir mereka sobek membentuk seringai, juga dada mereka terluka merah menganga. Aromanya sugguh memuakkan, sungguh tak dapat digambarkan... tak seperti apapun yang pernah ku cium sebelumnya. Aroma ini serupa dengan aroma kematian itu sendiri.

Aku mencoba berteriak, namun mulutku terbebat dan tubuhku terikat ke kursi. Aku memandang tak percaya ke sekeliling. Air mata mulai berjatuhan dari wajahku, aku tak tahan melihat pemandangan dan bau dari mayat-mayat di hadapanku.

"Lihat, siapa yang udah bangun."

Aku menoleh ke samping. Jeff berdiri di sana. Aku langsung menjerit namun teredam oleh bebatan di mulutku. Tau-tau Jeff sudah berada dekat sekali di sebelahku, dengan bilah pisau yang menempel ke leherku.

"Sshhsstt.. ssshss, sshs, shssst. Nggak sopan meneriaki teman seperti itu," dia mulai menggoreskan pisaunya ke permukaan wajahku. Yang meninggalkan garis transparan membentuk pola senyum menyeringai mulai dari ujung bibir sampai ke pipiku. Tubuhku bergetar hebat saat dia melakukannya. Ketika aku memalingkan wajah, dia langsung menjambak rambutku dan memaksakan wajahku menghadap ke arah pemandangan di seberang meja.

"Duh, duh, jangan kurang ajar, kau menghina semua tamu undangan dengan tidak mau memandang wajah cantik mereka."

Aku terpaksa kembali melihat, mengamati setiap ukiran senyuman di wajah-wajah mereka, bahkan ada beberapa yang luka tusukan di dadanya masih mengalirkan darah segar. Air mata panas kembali membanjiri wajahku, hingga aku menangis sesenggukan.
"Oww, ada apa?" Jeff mengiba. "Kamu sedih karena nggak terlihat secantik mereka?"

Aku memelototinya, mencoba mencerna apa yang dia katakan. Namun aku tak tahan melihat wajah Jeff, akupun membuang muka ke arah meja.

"Jangan iri, aku juga akan membuatmu tampak cantik. Bagaimana?" dia mengiris bebatan yang mengganjal mulutku dengan pisaunya.

Aku meludahkan potongan bebatan itu, kemudian menoleh untuk memandang lurus kedua mata Jeff, berusaha untuk mempertahankan tatapannya. Dia memiringkan kepala ke samping dan menatap balik padaku. Aku memejamkan mata lalu berpaling muka. Dengan suara kelam aku berkata,
"Mati saja kau," kemudian aku kembali menatap lurus padanya, "Dasar Joker gadungan!"

Dia tertawa terbahak-bahak di depan wajahku, membuat tampangnya jadi lebih memuakkan dari pada saat dia hanya tersenyum.

"Aku nggak menyangka kalau kamu bisa selucu ini."

Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku tak sudi dan membuang muka, aku dapat merasakan panas nafasnya terhembus di kulitku.

"Sesama teman harus saling tolong menolong kan? Nah, karena itu aku akan melakukan sesuatu untukmu."

Dia melepaskan jambakannya dari rambutku. Ketika aku menoleh, kulihat dia berjalan keluar dari ruangan. Aku menengok sekali lagi ke seberang meja, meresapi pemandangan itu. Air mataku mulai menitik lagi saat teringat akan kenangan tentang keluargaku serta teman-temanku yang baru beberapa jam lalu masih hidup. Aku masih tersedu sedan saat Jeff kembali.

"Jangan nangis," katanya, "Semua akan segera berakhir."

Aku menoleh dan kulihat barang bawaanya, sejerigen pelumas dan sekaleng bensin. Mataku mendelik ke arah jeff.

"Aku nggak punya alkohol, jadi inilah yang akan kulakukan."
Dia menyiramkan pelumas dan bensin ke sekujur tubuhku.

"Sebaiknya kita bergegas Jane. Soalnya aku udah nelpon pemadam kebakaran."

Kemudian dia mengeluarkan pemantik api.

Menyalakannya.

Lalau dilemparnya pemantik itu ke arahku.

Segera saja setelah percikan api menyentuhku, api langsung berkobar melalap tubuhku. Aku menjerit sekeras-kerasnya. Rasa sakit itu sungguh tak tertahankan. Aku dapat merasakan dagingku meleleh, hawa panas menyelubungi setiap pori-pori kulitku. Aliran darah dalam pembuluhku mulai mendidih, tulang-tulangku berkeretak dan menguapkan bau hangus. Sesaat sebelum aku roboh, aku mendengar suara tawa Jeff,
"Sampai jumpa lagi, kawan! Ku harap kau jadi secantik aku! AHA HA HA HA!"
Lalu semuanya gelap.

****************************************

Ketika aku terbangun, aku berbaring di ranjang rumah sakit, terbalut perban dari ujung kepala sampai jempol kaki. Semuanya terasa berputar, dan sakit sekali saat aku berkedip bahkan bernafas.

Aku melihat sekelilingku yang kosong. Aku berdeham nyaring sebab mulutku tertutup perban. Sekujur tubuhku perih.
Beberapa menit kemudian, seorang suster datang.

"Jane, kamu bisa mendengar suara saya?"

Aku memandangnya. Sekitarku terasa semakin berputar.
"Jane, saya perawatmu, Jackie, saya tak tahu bagaimana harus memberitahukan ini tapi, keluargamu tewas dalam kebakaran. Saya turut berduka cita."

Air mata kembali menuruni pipiku. Aku terisak.

"Jangan sayang, jangan menangis. Itu akan membuat kamu sulit bernafas."

Aku tak dapat berhenti.

"Jane akan saya berikan obat penenang untukmu."

Aku merasakan sesuatu meresapi aliran darahku, lalu akupun jatuh tertidur.

Ketika aku tersadar lagi, aku tak mampu bergerak leluasa dan perbanku tak sebanyak saat aku pertama kali siuman. Aku melihat sekeliling, terdapat banyak buket bunga di dalam ruanganku. Beberapa masih segar, yang lainnya sudah layu. Aku berusaha bangun tapi seorang suster datang lalu kembali membaringkanku.

Aku mencoba berbicara. Suaraku parau dan serak.
"Berapa, berapa lama aku tertidur?"

"Hampir 2 minggu. Kamu dikondisikan untuk tidur panjang guna membantu tubuhmu memulihkan diri. Saya suster yang sama yang kamu lihat ketika siuman pertama kali."

"Berikan aku cermin," pintaku.

"Jane, saya rasa itu tidak ba-"

"AMBILKAN AKU CERMIN ! "

Kurasakan tanganku di susupi gagang cermin. Ketika kulihat pantulan wajahku, aku menjatuhkan cermin itu ke lantai. Hancurnya cermin itu menjadi berkeping-keping tak sebanding dengan kehancuranku setelah melihat kenyataan yang ada. Kulitku bersisik dan kecoklatan, tak sehelai rambutpun tersisa di kepalaku, serta kulit dimataku berkantung-kantung. Aku terlihat buruk rupa hampir seperti Jeff.

Semua kenangan meluapiku bak terjangan tsunami. Aku menangis meraung raung. Suster itu memeluku namun tak banyak membantu. Meskipun aku menangis begitu keras, aku terkejut mendapati bahwa tak seorangpun datang untuk menghiburku. Aku kini sebatang kara. Setelah akhirnya aku berhenti menangis, aku hampir tak sanggup bicara.

Tiba-tiba seseorang mengetuk di pintu.

"Permisi, saya mengantar kiriman untuk 'Nona Arkensaw'?"

"Terima kasih," Jackie berdiri lalu menerima paketnya. Aku tak ingin si pria pengantar kiriman melihat rupaku, jadi aku memalingkan wajah ke tembok.

"Seseorang sungguhlah perhatian padamu Jane. Tampaknya orang ini juga yang telah mengirimi semua buket-buket bunga ke ruanganmu, ini juga ada paketnya."

Aku menengok. Jackie sedang menenteng bungkusan berwarna merah muda yang terikat benang cokelat. Aku meraih menerima paket itu. Segera benda itu ada di tanganku, aku merasakan sesuatu yang tidak beres.

"Maaf, tapi bolehkah aku minta sesuatu untuk kumakan?" pintaku semanis mungkin.

"Tentu saja, akan kuambilkan makanan untukmu." Jackie tersenyum, kemudian melenggang pergi.

Tanganku bergetar saat kucoba menyentuh benangnya dan menariknya. Kertas pembungkus itu segera terkuak membuka dan didalamnya ku lihat sesuatu yang membuat darahku beku seperti es. Sebuah topeng putih dengan lingkaran hitam di sekeliling lubang mata juga sebuah corak berbentuk senyuman hitam di bagian mulut. Dilengkapi lapisan hitam tembus pandang menutupi lubang mata sehingga walaupun orang lain tak dapat melihat mataku, aku tetap dapat melihat mereka. Beserta paket itu terdapat gaun panjang, yang juga berwarna hitam, dengan kerah turtle, sepasang sarung tangan hitam, dan rambut palsu hitam bergelombang yang anggun.
Bersama dengan semua benda-benda tersebut, terhiasi oleh sebuket bunga mawar hitam juga sebilah pisau dapur berkilau tajam.

Secarik catatan tertempel di topeng, bertuliskan :

" Jane maaf sekali aku sudah mengacau karena mencoba menjadikanmu tampak cantik. Jadi aku mengirimimu topeng supaya kau terlihat cantik hingga keadaanmu membaik. Dan kau melupakan pisaumu, aku pikir kamu pasti menginginkannya kembali."

'-Jeff '

Saat suster Jackie muncul, kiriman Jeff kusembunyikan di bawah kasur. Aku hanya memberitahu kalau isinya hanyalah buket bunga itu. Suster Jackie terlihat jijik akan bunga-bunga tersebut jadi dia membuangnya. Aku berterimakasih untuk itu.

Saat malam tiba, ketika semua orang telah terlelap atau sudah pulang, aku menyelinap keluar. Satu-satunya yang harus kukenakan adalah gaun itu. Jadi aku memakainya, lalu di luar lorong aku temukan sepasang sepatu yang mungkin terlupakan oleh seorang suster ceroboh. Ku pakai rambut palsuku agar aku tampak tak terlalu mencolok.

Aku tak tahu ke arah mana aku menuju, aku tak perduli. Ketika akhirnya aku berhenti melangkah, kudapati diriku berada di depan sebuah area pemakaman. Aku memasukinya, dan menemukan 2 buah batu nisan berdampingan. Isabelle Arkensaw dan Gregory Arkensaw. Aku berlutut di hadapan kedua nisan mereka untuk sekali lagi meratapi nasib. Setelah aku bangkit kembali, fajar hampir menyingsing, begitupun dengan babak baru dalam kehidupanku. Kukeluarkan topeng, lalu ku kenakan.
Kemudian ku ambil pisauku dan ku genggam erat seperti saat pertama kali aku menggenggamnya. Aku berbalik menghadap ke cakrawala, pada hari itu ku ikrarkan sumpahku untuk membalas dendam pada Jeff the Killer dan menubuatkan julukanku sebagai "Jane Everlasting". Karena satu-satunya hal tersisa yang kuinginkan adalah aku ingin dapat bertahan selamanya lebih dari pada kegilaan Jeff yang akan menjadi akhir dari riwayatnya.

Semenjak hari itu aku terus melacak keberadaan Jeff untuk menghabisinya.

Memburunya.

Memburunya seperti binatang, karena memang itulah dia sebenarnya.

Aku akan menemukanmu Jeff, dan aku akan membunuhmu.

Mengenai fotoku di layar hp beserta tulisan :

"Jangan pergi tidur, kau takkan bangun."
akan menjelaskan tentang apa yang ingin kuperbuat pada para calon korbannya Jeff, juga mencegah agar mereka tidak menjadi korban. Siapapun yang berkata kalau aku membunuh mereka supaya tidak dibunuh Jeff duluan adalah perkataan yang berlebihan dan memuakkan.

Jadi inilah kisahku. Kau akan menerimanya sebagai kebenaran atau sebaliknya bukanlah urusanku. Sekarang aku mohon diri, matahari hampir terbenam, dan sekali lagi perburuanku akan segera dimulai.

SC : CPI F