SCP Foundation

SCP Foundation - фиктивная организация, задокументированная одноименным арт-проектом на веб-сайте, созданная на территории вымышленного SCP Foundation, Природоохранные организации и локации, ответственная за обнаружение и удержание объектов.

Creepypastas

Creepypasta este o legendă sau o imagine de groază copiată și lipită pe internet. Aceste intrări pe internet sunt deseori menite să sperie cititorii. Poveste paranormală simplă creată de utilizator Ei ucid Kill și conține povești groaznice despre evenimente din altă lume

urban legends

これは都市伝説のリストです。都市伝説、神話、または物語は、民俗学の現代的なジャンルです。それは通常、気味の悪いもの、迷信、クリプティッド、クリーピーパスタ、その他の恐怖を生み出す物語の要素に関連する架空の物語で構成されています。都市伝説は、しばしば地元の歴史と大衆文化に根ざしています。

Live or die. Make your choice [Billy the puppet]

Билли, механическая кукла-живот, которую использовал Джон Крамер, известен как «убийца головоломок» [франшиза «Пила»), который неоднократно использовался на протяжении всей игры, чтобы рассказывать жертвам о головоломке, которая отключает смертоносные правила и инструкции, которым нужно следовать. выжить, выжить или умереть сделай свой выбор

I'am mad scientist! Hououin Kyouma

シュタインズ・ゲートの物語は秋葉原で行われ、過去にテキストメッセージを送信できるデバイスに電子レンジをカスタマイズした友人のグループについてです。

02/03/19

CREEPYPASTA : -I'm Here

Aku akan menceritakan sebuah cerita yang mungkin suatu hari bisa saja terjadi padamu.

Ini di mulai ketika aku mulai bermimpi sesuatu yang aneh, sosok wanita pucat yang menatapku dari luar jendela, entah kenapa, mimpi itu seperti nyata. Seolah-olah, aku benar-benar ada disana.
Namun, semua pikiran itu ku tepis mentah-mentah, kau tidak mau percaya pada sebuah mimpi bukan?

**

namun, mimpi it uterus terulang. Lagi, lagi, dan lagi.. membuatku cukup frustasi hingga aku sudah lupa berapa banyak aku meminum botol beralkohol ini.
Minggu Sore, seharusnya adalah hari bersantaiku sepanjang hari, menonton Tv, mendengarkan musik, atau membaca buku-buku koleksi Novelku.

Hingga, kejadian itu terjadi!!

Di awali dengan telephone berdering tanpa ada seseorang yang menjawabnya, aku terus mengangkat hingga dengan kesal, ku cabut kabel dan melemparkanya hingga menjadi serpihan benda yang tidak berguna.
Aku pikir, dengan ini sudah selesai, namun aku salah.
Aku mendengar sesuatu seperti ketikan di atas Ruang Tamuku, dan suara itu berasal dari kamarku.
Dengan cepat, aku bergegas kesana, membuka pintu sebelum aku melihat, Layar Laptopku dalam keadaan menyala, dan tertulis sebuah pesan disana..
Pesan yang memenuhi Document Wordku, ku tatap layar itu dengan wajah pucat, sebuah pesan yang tampak baru saja di ketik oleh seseorang, “Aku disini!!”

Ya, pesan itu memenuhi layar Laptopku, aku mulai berpikir secara rasional, terkadang ini bisa terjadi, aku tidak akan langsung berpikir, ini perbuatan dari kau tahu siapa?? Yups, Hantu.
Aku pikir ini omong kosong.

Aku mencoba menenangkan diriku, kemudian berjalan menuju ranjangku, hingga.. suara ketikan itu kembali terdengar, seketika ku lirik laptopku, tanpada ada yang menyentuhnya, pesan itu tertulis dengan sendirinya, dan terus memenuhi layar “Aku disini!! Aku disini!! Aku disini!! Aku disini!! Aku disini!!”

Melihat itu, aku segera meraih laptopku dan melemparkanya ke luar jendela. Kesunyian kembali ku rasakan, dengan nafas berat aku mencoba bersikap normal, sebelum. Suara sms dari handpondku terdengar, ketika ku buka pesan itu.. aku terbelalak menatap nomer asing yang mengirimiku pesan

“Aku disini!!”

Semua belum berakhir disana, perlahan, mesin Faxku tampak mendapatkan pesan, dengan kertas –kertas yang tercetak , semuanya sama.. bertuliskan satu pesan untukku “Aku disini!!”

Kegilaan itu, aku mulai merasa goyah, aku memegang kepalaku dengan keadaan seperti itu.
Aku bersandar pada dinding kemudian meringkuk, mataku tampak kehilangan Fokus, dan pesan itu memenuhi Otakku.

“Aku disini!! Aku disini!!”

Ketika aku tersadar, aku terbangun di atas meja kerjaku.
Aku tidak tahu apa yang baru saja terjadi kepadaku, yang aku tahu, aku hanya menatap beberapa botol alcohol di sampingku. Ku tatap diriku sejenak, kemudian tertawa lepas.. betapa bodohnya aku,
Kembali bermimpi tentang itu. Alkohol memang sangat buruk untuk kesehatanku, aku masih tertawa menahan geli, bila mengingat aku sebegitu ketakutanya dengan itu.

Hahahaha.. aku berjalan menuju Bathub untuk membasuh wajahku, sebelum aku melihat coretan di cerminku.

“Aku disini!!”




Source : Spookypasta.uk_

****

Reflection


"Siapa kau?"
Dirimu terus berkicau.
"Apakah aku cantik?"
Sesaat air matamu menitik.

"Kita teman, bukan?"
Tak bisa memberi jawaban.
"Aku ingin istirahat."
Tak apa jika bisa membuatmu sehat.

Lima pil putih,
Satu tenggakan.
Mulutmu berbuih,
Senyum kemenangan.

Kali ini hanya menunggu.
Mereka akan menemukan jasadmu.
Di depan meja rias.
Tempatmu biasa berhias.

Ini adalah keputusan yang berat,
Mati atau hidup sengsara.
Tak ada yang bisa kuperbuat,
Kecuali melakukan hal yang sama.

Dunia bawah, 10:45, 8814.

-Maggot Debridement Therapy (MDT)-

Maggot atau yang seringkali kita sebut dengan Belatung, sebenarnya memiliki keahlian khusus yang bahkan mengalahkan dokter-dokter ternama. Pada kenyataannya belatung adalah saingan yang kuat bagi dokter bedah dalam hal membersihkan luka.

Sejak zaman kuno belatung telah digunakan untuk mengobati luka. Bangsa Maya dan Aborigin pernah menggunakan terapi ini. Tetapi manfaatnya secara medis masih menjadi misteri hingga zaman moderen. Dominique Larrey,seorang dokter militer perancis pada abad ke-18 mengamati bahwa tentara yang lukanya dikerumuni oleh belatung memiliki angka kecacatan dan kematian yang lebih rendah dibanding tentara lainnya. Setelah mempelajari lebih lanjut, Larrey menemukan bahwa larva lalat jenis tertentu hanya memakan jaringan yang mati sehingga mempercepat penyembuhan luka.

Mekanisme utama dalam terapi belatung adalah debridemen atau pembersihan jaringan yang mati. Inilah yang istimewa dari terapi belatung, karena belatung dapat membedakan antara jaringan yang mati dan jaringan yang hidup dan hanya memakan jaringan yang mati saja. Lalu apa yang terjadi jika jaringan mati ini dibiarkan? Mengapa jaringan mati harus dibuang? Yang terjadi jika jaringan mati tidak dibuang adalah penyembuhan luka secara signifikan akan terhambat. Jaringan yang mati dapat menjadi tempat yang ideal bagi bakteri untuk bekembang biak, sehingga dapat menyebabkan gangren atau infeksi sistemik di peredaran darah yang berakibat fatal.

Dokter bedah tidak dapat secara akurat membuang jaringan yang mati sembari mempertahankan jaringan yang masih hidup tetap intak. Mata manusia tidak mampu untuk membedakan antara jaringan yang mati dan yang hidup secara tepat. Debridemen jaringan yang mati pada luka juga memerlukan anestesi sehingga dokter bedah hanya memiliki sedikit waktu untuk membersihkan luka. Akibatnya dokter bedah akan membuang banyak jaringan yang masih hidup, menghasilkan luka yang lebih besar dan mudah terinfeksi, belum lagi proses debridemen yang menyakitkan.

Terlebih, belatung tak akan menggali jauh ke dalam daging yang sehat, dan memilih untuk saling memangsa ketika mereka kehabisan makanan.



Berasal dari berbagai sumber.

Poltergeist

Pada Agustus 2005, tubuh seorang gadis remaja ditemukan dalam bagasi mobil di sebuah kompleks apartemen di Pheonix, Arizona. Dia diidentifikasi sebagai Collieen Beverely, seorang senior dari Window Rock High School.

Penyebab kematian Beverely adalah kehilangan banyak darah, dengan keadaan tenggorokan dan pergelangan tangan yang digorok. Aparat mengesampingkan dugaan bunuh diri, dikarenakan ada beberapa kondisi patah tulang akibat mempertahankan diri dari sesuatu. Tim forensik juga yakin bahwa dia telah dibunuh.

Mereka beranggapan bahwa gadis ini dipaksa masuk ke dalam truk, dengan tangan terikat di belakang punggungnya, kemudian tenggorokan dan pergelangan tangannya digorok. Mereka memutuskan bahwa gadis ini telah berada di bagasi selama tiga hari.

Kabar kematian Beverely membuat keluarga dan teman-teman terguncang. Ia terkenal sangat disukai dan baik, dan sulit dipercaya bahwa ada orang yang ingin membunuhnya.

Polisi menggeledah apartemennya, orang tuanya telah membiayainya untuk hidup sendiri, dan menemukan, apa yang disebut petugas, "Sebuah zona perang". Apartemen Beverely dalam kondisi seperti telah digeledah, meskipun jelas tidak ada barang yang diambil, dari apa yang orang tua Beverely katakan, segala sesuatunya masih lengkap.

Satu-satunya hal yang sangat menarik perhatian polisi adalah sebuah laptop yang ditempatkan di kusen jendela luar. Laptop tersebut sudah direboot, dibersihkan, dan satu file telah ditambahkan, beberapa jam setelah Beverely tewas. Polisi yang telah melihat video, tidak menyiarkian kepada publik karena karena ada sesuatu yang aneh pada video tersebut.

Video itu berdurasi lima menit dan tiga puluh empat detik, terdiri dari Beverely berjalan keluar dari kamar mandinya, terlihat di sebelah kiri frame, ia tengah memperhatikan sesuatu yang keluar dari tempatnya. Dia menempatkan kembali benda itu pada posisi semula, kemudian pergi ke sisi kanan layar. Dia tidak terlihat selama empat detik, sampai sesuatu bergerak (kau tidak dapat melihat hal yang bergerak ini di dalam video, yang mengarahkan para penyelidik untuk percaya itu baik di belakang kamera, atau di kamar mandi).

Beverely berjalan ke tengah ruangan, mencari-cari apa yang bergerak. Kemudian, pintu kamar mandi, yang telah dibiarkan terbuka, membanting menutup, menyebabkan Beverely menjerit. Dia terhuyung mundur, berbalik, dan terdengar suara pintu lain yang terbanting, mungkin pintu kamar mandi yang tidak dapat dilihat dalam video.

Di belakang Beverely, bingkai foto perlahan mulai bergerak searah jarum jam, dan Beverely tidak mengetahui itu. Kecepatan dari pergerakan bingkai foto terus bertambah, dan akhirnya terlempar dari dinding.

Sisa dari rekaman video adalah benda-benda yang berterbangan di sekitar, dengan Beverely terperangkap di tengah-tengah kerusuhan itu. Pada empat menit dan lima puluh tiga detik, pintu depan terbuka, dan semuanya berhenti bergerak. Beverely terlihat diseret oleh sesuatu yang kuat dan tak terlihat. Gadis itu kemudian menjerit dan berjuang untuk membebaskan diri.

Tepat lima menit, komputer terangkat dari belakang, dan ditempatkan di kusen jendela. Suara seperti bergumam terdengar samar di latar belakang, diikuti dengan suara tawa.

Ahli Audio didatangkan, dan mereka berhasil menjernihkan suara sehingga mereka bisa mendengar apa yang dikatakan. Meskipun mereka tidak bisa menangkap semua yang dikatakan, mereka berhasil mendapatkan sebuah kata, "Lautes Geister", yang diterjemahkan ke "Hantu Bising" dari bahasa Jerman.

Polisi sedang mempertimbangkan kemungkinan bahwa ini adalah kejadian poltergeist—sebuah cerita rakyat yang berasal dari Jerman yang kira-kira dapat diterjemahkan menjadi "Roh berisik", namun akhirnya dugaan ini kembali dikesampingkan. Polisi belum memberikan informasi ini kepada publik, dan siapapun yang pernah terkait atau bekerja untuk kasus ini dilarang untuk berbicara tentang hal itu.



sc : Creepypasta wikia


CREEPY PASTA : Delivery - FF Creepypasta Indonesia

Sudah bertahun-tahun lamanya aku bekerja di perusahaan ini, tapi sesuatu yang tidak menyenangkan baru-baru saja terjadi. Ide yang telah kurancang untuk presentasi telah dicuri oleh rekan sekantorku.
Aku yang menyadari hal itu jelas kaget. Bagaimana bisa-bisanya dia melakukan perbuatan semacam itu? Kupikir semua ini hanya untuk jabatan dan mempertahankan karir. Saat kucoba untuk meluruskan segalanya, dia menyanggah. Singkatnya, dia menang dan aku kalah.

Aku dipecat oleh karena hal itu. Berjalan dengan lemas melewati koridor. Aku marah, aku benci, ingin sekali aku menghajarnya sekedar memberikan pelajaran untuk orang brengsek seperti dia.
Cepat atau lambat, hari pembalasan akan tiba pada waktunya. Saat ini, lebih baik membiarkan seorang pemenang berpikir dia menang mutlak. Mungkin dia licik, tapi aku lebih cerdik darinya.

***

Setahun berlalu. Aku masih ingat beberapa bulan sebelumnya, aku seorang pengangguran yang mencoba bertahan hidup dengan sisa tabungan. Sekarang aku bekerja sebagai pengantar susu. Sebagai orang baru, aku masih mencoba menghapal rumah-rumah di jalan mana saja yang menjadi langganan kami.

Saat membaca daftar pelanggan, mataku membelalak, tanganku mengepal, emosiku menjadi tidak stabil. Ini semua bagaikan lumpur di dasar kolam yang terangkat kembali ke permukaan. Salah satu nama yang berada di daftar itu begitu kuingat sampai mati.

Aku turun dari kendaraan dan berjalan menapaki halaman rumah. Menggantikan botol-botol kosong yang tergeletak di depan pintu, menggantinya dengan yang berisi. Kemudian melangkah pergi dari sana, rumah yang dulunya pernah kuinjak saat sebutan rekan dan teman masih berlaku.

Kupikir beberapa tetes racun cukup untuk membalas semua amarah di masa lalu. Jadi, silahkan nikmati pesanan kematianmu.

***

Keesokannya, aku menatap koran dengan senyum sumringah. Semua yang kuharapkan benar-benar terjadi. Namun, aku sedikit kecewa. Sebab targetku bukan mati keracunan, melainkan dia dibunuh oleh perampok yang memasuki rumahnya. Well, tidak masalah. Yang penting dia tetap mati.

Saat seseorang mencapai puncak kehidupannya, maka dia lebih berharga berkali-kali lipat untuk dibunuh.


SC : Chandra Wu

CREEPY PASTA : Relung yang Kosong - FF Creepypasta Indonesia

Namanya relung. Sebuah nama tak biasa yang disandang oleh seorang gadis biasa. Terlalu biasa, bahkan bisa disebut terbelakang di pergaulannya. Kedua orang tuanya bercerai ketika relung masih di kandungan. Bukan bercerai tepatnya, ayah Relung meninggalkan ibunya tanpa alasan.
Ketika Relung masih sebagai janin 7 bulan, sang ayah pergi meninggalkan ibu dan rumah kecil mereka.

Relung tumbuh sebagai gadis yang kurus dan terlihat selalu lemas. Ibunya terlampau miskin, bahkan untuk memberi susu formula. Bersangga sebagai petani jagung, ibunya tak mampu menyekolahkan relung. Hingga akhirnya relung diangkat oleh seorang bibi yang janda. Ya, meskipun begitu relung tak pernah kesepian....

Sejak pendidikan SD bahkan menginjak Universitas, relung tak benar-benar yakin banyak teman yang mengingat dirinya. Meski relung selalu ingat, satu demi satu nama teman-temannya yang pernah berada dalam kelas yang sama. Terlebih... Nama-nama "asing", yang bahkan tak pernah tercatat di absen kelas.

Relung ingat... Ketika SMA kemarin, ketika kelas 12 Ipa C gempar karena bangkai seekor kucing tanpa kepala tergeletak di lantai kelas, berlumuran darah hitam yang kental. Semua murid ketakutan bahkan ada yang menangis.

Relung melihatnya, "Kerjaan gadis itu lagi," pikirnya. "Dia senang sekali berbuat jahil."
Tapi Relung hanya akan terlihat bodoh bila mencoba memberi tahu teman-temannya akan hal yang dia yakini, dia akan diejek seperti halnya ketika SD.

Relung diam saja.

Relung selalu diam, bahkan terlalu banyak diam. Bicara tak membuatnya dihiraukan.

Di kamar dan di gelapnya malam ia bertemu keadilan, bertemu keramaian irasional yang tak pernah dijumpainya di sekolah. Pengobat rasa sepi meski rasanya aneh, mereka semua tak seperti dirinya.

###

Hingga Relung menemui cintanya. Dia pria yang sopan dan tak banyak bicara seperti Relung. Dengan balutan almamater kini, Relung terlihat lebih baik. Relung dan si Pria menghabiskan waktu bersama setiap hari.

Mereka selalu bersama sejak surya tiba dan berakhir. Relung pun lupa akan keramaian irasional yang tak pernah mengabaikannya.

Relung sudah punya keramaian sendiri kini, bersama sang Pria pujaan yang mengisi relungnya. Relung gadis itu.

Hubungan mereka begitu jauh, terlalu jauh untuk sepasang kekasih. Janin itu, telah bersarang di perutnya. Dan sang pria pujaan, pergi seperti ayahnya....

###

Malam itu relung menangis di kamarnya. Kamar yang ia tempati bertahun-tahun terakhir. Kamar tumpangan dari bibi yang murah hati.

Di atas kasur lapuk ia duduk menangis, menenggelamkan kepalanya diantara kedua lutut. Dia memanggil-manggil dalam kegelepan, memanggil "teman" yang telah ia lupakan.

Namun desir angin tipis mendera tengkuknya. Relung menutup matanya yang merah karena ketakutan. Harusnya ia tak takut, ia tahu itu.

Sesosok perempuan duduk di sebelahnya. Tersenyum magis penuh arti kearah relung.
Dia tak di lupakan.

###

Relung menemui ajalnya, di sepetak kamar berukuran 3 x 3 meter. Bersama janin di perutnya.



SC : pucat biru

CREEPYPASTA : [ AEP Series ] Creepypasta Indonesia



Milk in The Bowl  Creepypasta Indonesia

Aku sering melihat tetanggaku—Ibu Hops—menaruh semangkuk susu di depan rumahnya setiap pagi, dan masuk ke rumahnya tanpa memastikan ada yang meminumnya.

Biasanya mangkuk itu diminum oleh hewan yang lewat—yang entah kenapa selalu berbeda setiap harinya. Bila itu hewan dari rumah Ibu Hops, pasti selalu berbeda, dan susunya habis diminum di malam hari.

Tentu saja karena Ibu Hops terkenal sebagai pecinta hewan, aku tak butuh curiga.

Suatu saat, seorang pengemis yang sering melewati jalan ini menyadari mangkuk yang berisi susu meski pada malam hari dan meminumnya. Kucermati dia, yang dari bertubuh lemas hingga kejang-kejang tak karuan.

Secepatnya aku berlari ke pengemis tersebut yang terlihat sudah mulai melemah dan membawanya ke ruang makan rumahku untuk diberikan obat penenang, dan menyanggakan badannya ke sofa.

Kecurigaan mulai terbesit di otakku, dan dengan cepat aku berlari ke rumah Ibu Hops dan mendobrak pintunya dengan keras.

Aku melihat ruangan penuh bangkai hewan dan alat-alat tajam tersangga ke dinding, membuatku ingin muntah. Dan jangan lupa, Ibu Hops yang sedang minum susu dalam mangkuk di samping bangkai anjing yang perutnya terbelah dan mengeluarkan darah beserta susu.

"Oh, Pak Kane, apa yang terjadi?"

"Kau meracuni seorang pengemis. Aku tahu aku harus mencurigaimu."

"Tapi kau tahu, aku pecinta hewan…."

"Dan aku pecinta manusia. Tepati janjimu."

Lalu keadaan pun diam.

"Kau bisa urus pengemisnya. Aku berjanji tak akan melukai mereka."

"Sampai aku tahu kau menyentuh mangsaku, aku tak akan segan-segan...."

Seketika aku menutup pintu rumahnya.

Berjanji dengan penyihir sepertinya memang mengesalkan, tapi tak apa.

Memikirkan kecurigaan itu memang melelahkan. Aku harus istirahat dan makan malam, lagi pula diriku sudah diberikan bahan makanan gratis.




***

My Idol Creepypasta Indonesia

Tepat pukul 12 malam. Saatnya untuk tidur. Merilekskan otot-otot yang tegang karena sudah berjam-jam aku duduk didepan layar komputerku untuk mencari info dan cerita tentang idolaku. Jeff the Killer.

Aneh memang tapi itulah aku. Di luar sana orang-orang lebih suka mengidolakan sesuatu yang berbau kimchi atau apapun itu namanya. Tapi tidak denganku.

Saat mata ini terlelap. Tubuh ini seakan melayang ke dalam mimpi.

Di sana aku melihat dia, Jeff the Killer. Dia sedang melihatku dari balik jendela kamarku. Dengan pelan dia menghampiriku dan berkata, "Go to sleep," sambil memberiku senyum khasnya.

Aku tersentak saat dia melompat keatas kasurku dan berusaha untuk membunuhku.

Akupun terbangun dan berteriak sekencang-kencangnya. Walaupun dia idolaku tapi ada sedikit rasa takut yang kurasakan.

Kakakku datang dan memelukku seraya menanyai keadaanku. Setelah kuceritakan semua yang terjadi padanya dia memberiku susu coklat hangat kepadaku.

"Minumlah, biar kamu lebih tenang!"

Setelah menghabiskannya akupun menyanggakan kepalaku dipundaknya dan mengucapkan terima kasih.

Setelah dia pergi kurasakan tubuhku mulai lemas tak bertenaga. Mungkin karena susu itu aku jadi lebih rileks.

Namun baru beberapa menit aku memejamkan mataku. Kurasakan perih disekujur tubuhku. Begitu takutnya aku saat mata ini terbuka dan melihat kakakku menindihku sambil menguliti dan mengiris dadaku hingga robek.

Ingin berteriak tapi tubuhku masih terasa lemas, dan aku baru sadar apa penyebabnya.

Aku hanya bisa menangis dan meringis kesakitan. Sesekali aku mengeluarkan suara tercekat yang panjang.

Kakakku hanya tersenyum padaku. Tersenyum dengan gaya khas idolaku seraya berkata,
"Go to sleep."

***

Hide and Seek Creepypasta Indonesia

"Ding-dong... hurry, open the door... I have come for you... trying to hide from me is futile...."

Aku terhenyak, lagi-lagi alunan lirih menyesakkan itu kembali terdengar. Aku tak menyangka semuanya jadi begini, semenjak 'permainan' yang aku dan kelima sahabatku lakukan setengah jam yang lalu, berubah menjadi bencana seperti ini.

Aku masih mengingat dengan jelas sesosok makhluk yang muncul dari papan permainan kami dan langsung melahap salah satu teman kami yang berada paling dekat dengan papan permainan. Makhluk itu membuat masing-masing dari kami langsung berpencar, hingga membuatku terkurung disebuah ruangan pengap ini.

"KYAAAAAAAA!!!" jeritan salah seorang temanku diluar membuat kakiku mendadak lemas, dan membuatku langsung terduduk. Akupun mundur perlahan dari pintu yang ada didepanku, berharap hari akan segera pagi.

Mataku pun tak kunjung berhenti memelototi pintu putih susu yang kusam tersebut, saat…
"Tap... sreekk... sreekk...."

Mendadak otakku membuat suatu keputusan yang berat segera setelah suara langkah sambil menyeret sesuatu itu terdengar.

Mati dikunyah makhluk ini… atau mengakhiri diri sendiri sekarang.

Akupun memejamkan mataku dan menggeleng-geleng ketika otakku memilih keputusan kedua. Masing-masing sisi diriku menyanggah satu sama lain.

Bagaimanapun, aku takut mati, aku masih ingin hidup dan menikah, Bung!

Tapi... daripada aku harus merasakan lenganku perlahan dikunyah olehnya, lalu tubuhku perlahan dicabik olehnya, rasa sakit mengakhiri hidup sendiri itu takkan ada apa-apanya, sakitnya hanya sekejap.

Ah, bagus, mataku, kau menemukan sesuatu yang membuat otakku lebih yakin akan pilihan kedua, selamat untukmu!

"DOK DOK DOK! I know you're there, dear...." Pintu didepanku mendadak digedor secara liar, bersama sebuah suara serak yang semakin menggetarkan seluruh tubuhku.

Akupun menatap pecahan kaca yang tak berapa jauh dari tangan kiriku, oh god, haruskan hidupku berakhir tragis seperti ini?

"BRAKK!!"

sekejap, pintu didepanku pun hancur oleh kuku makhluk itu. Kini bisa terlihat dengan jelas wujud makhluk itu dari ujung kepala sampai kaki—sesosok perempuan berambut krem kusam bergelombang yang diikat twintail dengan seluruh tubuhnya penuh bercak darah—tampak tertawa seperti orang gila sambil berjalan kearahku dan lagi-lagi menggumamkan lagu menyesakkan itu dengan lirih.

"Ding-dong... I am coming in now... hurry up and run... let us play chase and have fun together... And, I got you!!!"

Akupun refleks menyilangkan kedua tanganku dan menutup mataku. Masih begitu jelas di ingatanku ketika makhluk ini perlahan mengiris permukaan kulit temanku, lalu menggigitnya bagaikan makan daging kalkun yang alot, darah bercipratan kemana-mana, perlahan dia mencabik tubuh temanku itu dan tertawa seperti orang gila, kemudian menghisap isi perut temanku bagaikan menghisap spagheti.

Kurasa... Hidupku juga akan berakhir dengan cara seperti itu. Baiklah, otak, kau menang. Sekarang pilihan pertama itu yang menang. Aku akan segera dicabik-cabik oleh makhluk ini.

Dan tragis, aku tak bisa mewujudkan impianku untuk menikah.




***
Sleep Paralyze Creepypasta Indonesia

Pernah mendengar Sleep Paralyze? Saat kalian terbangun dari tidur tapi tidak bisa menggerakan tubuh kalian sedikitpun, itulah yang medis katakan. Di dunia ini, ada beberapa penjelasan tentang Sleep Paralyze, seperti malaikat maut yang akan mengambil nyawa yang sedang tertidur, atau kalian sedang di perkosa iblis... temanku pernah mengalaminya, dan dia mengatakan itu sangat mengerikan. Dia pindah dari kota dan tinggal bersama kakeknya di desa. Menurutnya, jika seseorang terkena Sleep Paralyze—apapun yang menyebabkannya akan mengikuti kemanapun orang itu pergi dan akan melakukannya lagi jika ada kesempatan.

Temanku berkata jika disebabkan oleh malaikat maut, setidaknya dia bisa beristirahat dengan tenang tanpa ada media yang mengetahui ini. Dia berkata jika aku mengalaminya, aku harus terbangun—apapun yang terjadi—jika tak ingin sesuatu yang buruk terjadi. Manusia sangat aneh, aku tidak percaya dengan hal bodoh itu, lagipula, dunia medis mengatakan Sleep Paralyze akan hilang jika tetap tenang.

Malam ini aku begadang untuk memainkan game kesukaanku… Mengalahkan para player bodoh itu sambil bersangga pada kursi membuatku bosan, ingin rasanya berbaring. Karena telalu lemas, aku malas meminum susu sebelum tidur, kutinggalkan saja di meja.

Saat tertidur ada sesuatu yang terasa menindih dadaku, aku tidak peduli karena aku punya adik yang usil. Namun aku tersadar, bahwa adikku tak pernah terbangun tengah malam. Aku sadar sambil berbaring dan melihat gelas susu di meja terjatuh tanpa tahu penyebabnya.

Saat aku ingin bangun... sekelilingku terlihat sangat gelap! Aku melihat sosok hitam yang sedang menuju kemari. Kupastikan aku tidak sedang bermimpi. Astaga! Apa yang terjadi? Tubuhku tak bisa di gerakan… nafasku tidak teratur. Aku sudah melakukan semua cara agar bisa terbangun, tapi ini percuma. Aku teringat bahwa ini akan kembali normal jika aku tetap tenang. Dan ya, ini ternyata benar!

Akhirnya aku bisa terbangun dengan normal... tapi kenapa aku terbangun di tempat ini? Semua orang memakai piyama. aku melihat mahluk aneh yang sedang menyiksa manusia! Dan aku melihat banyak prajurit yang tak pernah kulihat sebelumnya. Apakah mereka bersiap untuk perang? Aku melihat temanku berbicara sesuatu yang tidak ku mengerti. “Ternyata para medis tidak lebih dari penyembah yang memanfaatkan orang lain untuk mencapai tujuan mereka.”

***

Bara Creepypasta Indonesia

Ruangan ini masih berbau peluh. Ada noda basah tertinggal di ranjang tempatku meringkuk kini, seolah saksi gelinjang asmara liar yang terjadi tadi. Bara belum bergerak, masih duduk lemas bersandar dinding. Di bawah keremangan.

Satu-satunya sumber penerangan dalam ruangan ini berasal dari lampu dekoratif yang terletak di atas meja. Sinarnya mencakup seluruh ranjang dan memantul di sebagian dinding bernuansa coklat karamel di belakangku. Kendati masih gelap untuk melihat keseluruhan sudut double deluxe room ini dengan jelas, aku dapat merasakan sensasi hangat dan nyaman yang ditimbulkan dari sisi sugestif warna tersebut.

Sekeras apapun usahaku menahan bibir agar tetap rapat mengatup, lenguhan pelan dan konstan tetap saja berhasil meluncur keluar. Gagal kutahan. Kadang berupa rintih, nyaring dan melengking, seperti seekor anjing peking. Itu saat Bara memegangi kedua pergelangan kakiku dan membukanya lebar-lebar, lalu melakukan penetrasi. Pundaknya terasa licin oleh keringat ketika kucakar. Dan ia seolah tak merasakan sakit sama sekali. Mendekati puncak nikmat, Bara hanya tampak makin beringas.

"Munafik," desisnya. Pelan, namun seperti sengaja agar tetap bisa kudengar.

"Aku sungguh benci kamu."

"Mulutmu menolak, tapi sorot matamu ganas."

Aku memalingkan wajah. Menarik selimut lebih ke atas.

"Kamu bahkan mengimbangi gerakanku."

Gelas berisi susu itu pecah berserak seketika menghantam dinding. Melenceng beberapa inci dari wajah Bara. Serpihan-serpihan kaca melesat ke arah sembarang. Dan anehnya ia tak berusaha mengelak barang selangkah. Masih geming di tempat.

"Biasanya lebih baik." ia terkekeh mengejek. Membuatku tambah benci.

"Aku meleset," kataku menyanggah.

"Kamu sengaja. Kamu nggak tega."

"Persetan. Aku muak."

Sebaris cairan merah meleleh di muka Bara. Darah. Rupanya sekeping kaca berhasil merobek otot pipinya.

"Aku takut melahirkan cacat."

"Penakut mati berkali-kali sebelum kematian mereka yang sebenarnya. Sedang pemberani hanya sekali." Bara bangkit berdiri dan melangkah mendekatiku. "Aku selalu tahu kamu tipe yang kedua."

"Tapi terlalu beresiko."

"Aku tak pernah mendengar ada kisah roman yang jalannya lurus-lurus saja. Lagipula, sejak kapan cinta tak butuh pengorbanan?"

Aku tersenyum. Bara memandangku yakin.

"Ini rahasia kecil kita. Jangan sampai Ayah atau Ibu tahu."




sc :Lucifer creepypasta indonesia






CREEPY PASTA : White Powder [ 魔法の粉 ]


Kembali, pria tua itu membuka kertas yang dilipat menjadi bentuk persegi kecil. Dalam kertas itu terdapat sebuah bubuk putih yang terbungkus plastik putih kecil, dan tambahan beberapa kata yang di bentuk dari huruf tempel—diambil dari potongan majalah atau koran—berbunyi, “Ini adalah bubuk pewujud keinginan, tuang bubuk ini pada air atau semacamnya, lalu minum air itu, dan harapanmu akan terkabul.”

Pria tua itu sebenarnya tahu, dirinya tidak sakit. Ia hanya butuh ketenangan, setelah anak dan istrinya pergi meninggalkan dirinya yang terbelit hutang akibat judi. Mereka sebenarnya tidak pergi, tapi dipaksa pergi. Oleh sekumpulan pemuda bertato yang memakai kacamata hitam. Itu karena di rumahnya hanya tertinggal sebuah meja makan dengan bakul nasi berkarat yang di dalamnya hanya tersisa beberapa butir nasi mengerak.

Picik, pikirnya. Manusia sungguh arogan, bahkan orang yang memberinya kertas dan bubuk ini.

Tangan gemetar yang meraih ragu gelas susu itu, kini tampak mantap. Dituangnya bubuk putih pewujud keinginan, dan diaduknya susu itu dengan jari.

Satu tegukan besar, lalu tegukan berikutnya yang temponya kian melemah. Diiringi dengan detak jam weker di atas meja, ia menghabiskan tetes terakhir. Sebelum tangan yang memegang gelas terkulai lemas.

ASPARAGUS PUTIH | Shopee Indonesia

***

“Ini pembunuhan,” sergah detektif yang memeriksa mayat pria tua berperut buncit dan berumur kira-kira 60 tahun.

“Kami menemukan cap dari kelompok rentenir penjudi di secarik kertas yang berisikan perintah untuk meminum bubuk racun. Tim forensik juga menemukan adanya kandungan racun dari plastik bekas ‘bubuk’ yang ditulis di kertas ini. Racun yang sama, yang bisa di temukan dalam proses suntik mati.”

Mereka membawa mayat pria tua itu, dan meminta agar kamar ini dijadikan TKP untuk sementara waktu. Tidak boleh ada yang masuk sembarangan ke kamar itu, sekalipun dokter atau perawat.

***

Di koridor lantai dasar, dekat tempat pembuangan sampah, seorang perawat mengejar dokter berperawakan tinggi dan tampan.

“Dokter William!” setengah berteriak, namun tetap menjaga suara agar tidak bising.

Dokter yang berumur 32 tahun itu membalik badan. “Ya? Ada apa?” senyumnya sangat menawan, hingga perawat tadi merasa pipinya memerah.

“Apa kau tidak takut jika mereka menemukanmu?” tanya perawat tadi. Wajahnya menampakkan kekalutan.

“Itu mustahil,” sanggahnya, dengan gelak badan yang menggoda. Ia mendekat dan memegang pipi perawat yang bernama Catherine. “Sudah kubilang bukan, tidak ada lagi yang membiayai perawatan pria tua itu, rumah sakit jiwa ini butuh dana lebih dan ruang yang cukup untuk pasien-pasien baru yang membawa banyak uang.”

Dokter William berbicara sangat dekat dengan wajah perawat itu, sehingga Catherine memejamkan matanya—entah karena malu, atau takut. Ia menggenggam tangan Catherine sambil menyelipkan suatu benda yang baru saja diambil dari jas putihnya. Dokter tampan itu berkata dengan suara yang halus dan sedikit serak.

“Sekarang, sentuhan terakhir. Buang stempel ini ke tempat terjauh yang kau bisa. Maka kau boleh bertamu lagi ke apartemenku, malam ini.”



sc : lucifer creepypasta indonesia



CREEPYPASTA : Ventilasi Room

Aku adalah seorang Pekerja yang sibuk. Aku bekerja di sebuah Biro Iklan, setiap hari ku lalui sama saja.

Berangkat pagi, dan pulang pada larut malam, bahkan beberapa kali aku harus tidak pulang.

Aku seorang Jones, kau mengerti Jones kan (JOMBLO SEMPAK) sudah lama aku tidak menjalani masa pacaran, terlebih ketika pacar yang dulu mengisi hariku memilih menikah dengan pria tua pemabuk di sebrang jalan. Hidupku biasa saja, namun aku mulai merasa aneh, ketika makanan bulananku mulai berkurang padahal aku yakin, aku hanya menghabiskan sarapan hanya pada pagi hari, aku lebih banyak makan di luar, bahkan ketika pulang aku biasanya langsung tidur karena jadwal gilaku ini.

Karena penasaran. Aku mulai memasang kamera Video di seluruh isi rumahku.

2 hari ini, aku pergi ke luar Kota karena harus menangani sebuah proyek iklan bersama clienku. Ketika aku pulang, aku melihat isi Video itu.

Aku mulai memutarnya di ruang tamuku, tidak ada yang aneh. Hanya latar Dapurku seperti biasanya, aku mulai menyeruput kopiku, ketika aku tersedak saat menyaksikan sebuah tangan kurus merayap keluar dari Ventilasi udaraku.

Aku terbelalak mulai serius mengamati isi rekaman itu, perlahan sosok wanita bergaun compang –camping keluar dengan rambut kusut mengerikan dan mulai melahap isi kulkasku.
Aku mulai begidik ngeri, melihat itu. Aku segera memanggil 991, aku sempat salah memencet tombol nomer pengirim pizza karena aku begitu gemetar menyaksikan video mengerikan itu.

Tidak beberapa lama, pengantar Pizza dan polisi datang. Sebelumnya, maaf!! Ku usir dulu pengantar pizza itu yang meminta tips lebih, kemudian ku sodorkan Video itu pada 2 polisi itu.
Dengan cepat, mereka mengeledah rumahku dan menemukan wanita mengerikan itu di atas Balkonku yang sangat jarang ku masuki.

Mereka membawa wanita itu dalam tahanan.

Aku mulai merasa lega, namun semua ini belum berakhir. Kau tahu apa yang mengerikan dari cerita ini.
Bukan!! Bukan karena aku sudah Jomblo selama 3 tahun, atau pengantar Pizza yang mencoba meminta tips lebih itu!! Namun, aku baru sadar, bila Ventilasi dalam rumahku sudah lama aku semen dan bagaimana wanita itu bisa masuk. Apakah dia manusia?

kabar terakhir yang aku dengar, wanita itu menghilang dari dalam sell. Jadi, periksalah apa ada wanita itu dalam Ventilasi udaramu.




source: Spookypasta_IMF

Reiko Nanashima [ 七島玲子 ]

Reiko Kashima adalah hantu tak berkaki, dan seperti hantu-hantu lainnya, yang bertemu dengan hantu ini akan diberikan pertanyaan-pertanyaan.

Jika anda menjawab dengan salah, maka kaki anda akan dipatahkan oleh si Reiko. Dikatakan Reiko dulunya adalah wanita normal, lalu dia di perkosa dan dia berusaha menyelamatkan diri dengan cara ngesot (mirip suster ngesot kali ya ), namun dia hanya sampai di perlintasan kereta, dan ketika kereta lewat... putuslah kedua kakinya. Sekarang, dia berkelana di Toilet seluruh dunia mencari kakinya.

Seperti karakter hantu Sadako dalam film The Ring, hantu ini dikatakan akan mengejar siapapun yang telah mengetahui tentang dirinya.

Source : klikunic.blogspot

A Message from your Personal Demons


Halo, sayangku. Kau tidak tahu siapa diriku, namun aku tahu siapa dirimu. Aku adalah salah satu dari tiga iblis yang selalu menyertaimu sejak kau lahir. Beberapa orang di dunia ditakdirkan untuk menjadi orang besar, ditakdirkan untuk bahagia, menikmati hidup nan menjanjikan.
Kau? Sayangnya, bukanlah bagian dari mereka, adalah tugas kami untuk menjamin hal tersebut.

Siapa sebenarnya kami? Oh maaf atas ketidaksopanan ini. Ijinkan aku sebagai wakil untuk memperkenalkan kami:
Kehinaan adalah adikku, iblis pada pundak kirimu. Kehinaan berbisik dan meyakinkan bahwa kau adalah orang aneh, sinting. Dia mengatakan bahwa kau tidaklah normal; bahwa dirimu adalah sumber malapetaka, sosok yang tak pernah bisa diterima oleh sekitar. Dia yang mengatakan dan meyakinkan dirimu, bahwa kau tidak lebih dari seonggok sampah. Berterima kasihlah padanya karena telah membuatmu membenci diri sendiri.

Ketakutan duduk di atas pundak kananmu. Dia adalah kakakku, umurnya sama tuanya dengan kata kehidupan itu sendiri. Ketakutan mengisi setiap sudut tergelap dalam dirimu dengan monster dan hantu tak kasat mata. Dia yang mengubah setiap orang asing di jalanan menjadi sosok pembunuh dalam pikiranmu. Dia yang mengenalkanmu pada “kenyataan” bahwa ada entitas mengerikan yang meringkuk di balik jubah kegelapan. Ketakutan jugalah yang mencegahmu untuk mengungkapkan isi hati pada sosok pujaan. Dia yang meyakinkanmu untuk tidak pernah mencoba sehingga akhirnya kau jatuh pada jurang kegagalan tak berdasar. Ketakutanlah yang membuatmu membangun penjara bagi dirimu sendiri.

Lantas, siapakah aku?

Aku adalah iblis paling mengerikan yang ada dalam dirimu, namun kau menerimaku sebagai sosok sahabat. Kau berpaling padaku saat tak ada lagi yang tersisa, selalu, karena aku hidup dalam hatimu, jiwamu. Akulah sosok yang memaksamu untuk tetap bertahan dan memikul semua beban hidup. Sosok yang membuat siksaanmu menjadi berkepanjangan dan abadi

Salam penuh sayang,

Harapan.

CREEPYPASTA : Forgotten Forest

‘Klak!’

“Hei! Itu coklat milikku!” teriak anak laki-laki berbadan kurus dan memakai kacamata, Joan.

“Salahkan saja dirimu yang membuat kita tersesat di hutan selama dua hari. Aku tidak mengerti mengapa ibu memberiku adik seperti dirimu.” Sahut anak laki-laki lainnya—Andrian—yang berbadan lebih besar dan tinggi dengan rambut model cepak dan membawa ransel hijau lumut di punggungnya. Mulutnya kembali mengunyah coklat batangan setelah ia menyelesaikan kalimatnya.

Joan merengut, pandangannya dialihkan ke arah tanah.

“Maaf … ini semua karena rasa penasaran yang menang dari kepatuhan akan peringatan ayah dan ibu. Aku sendiri—“ suaranya terhenti seketika. Ia melihat ke arah batu besar di hadapan mereka. Batu besar yang sekiranya sudah mereka lewati tiga kali sejak kemarin.

“Sial!” seru Andrian, yang sepertinya satu pikiran dengan Joan. “Hutan apa sebenarnya ini! Apakah kita sudah pindah dari bumi dalam waktu 48 jam, hah?” Andrian tak kuasa menahan emosinya. Perut lapar dengan persediaan makanan yang semakin menipis. Hutan aneh yang seakan tak ada jalan keluar. Semua berpadu dalam keharmonisan emosi yang membuat dirinya geram. Konyol, hanya itulah yang ia pikirkan. Sebagai anak yang selalu mendapat beasiswa di sekolahnya, ia membenci hal-hal irasional.

Mereka terus berjalan, dengan bekal kompas yang sepertinya rusak. Andrian memeriksa kembali handphonenya yang tidak menunjukkan tanda-tanda kepemilikan sinyal. Benar-benar beruntung, batin Andrian.

Joan melihat ke sekitar. Hanya ada pohon-pohon tinggi, bebatuan besar, dan tanah yang dipijaknya. Ia bahkan tidak mengetahui jenis-jenis dari pohon besar itu. Sesungguhnya, Joan dan Andrian bergabung dengan klub pecinta alam, tapi bahkan mereka tidak mengetahui, alam apa yang sekarang sedang mereka pijak.
Ini memang kesalahan besar, pikir Joan. Seharusnya ia tidak menyepelekan nasihat orang tuanya. Seharusnya ia juga tidak memaksa Andrian menuruti keinginan di hari ulang tahunnya itu. Yeah, kemarin adalah hari ulang tahun Joan.

Joan menyesal karena telah membohongi orang tuanya. Ia tahu, dirinya adalah anak paling nakal sejagat raya. Ia berkata akan mengikuti kegiatan dari klub pecinta alam di sekolah mereka, namun pada kenyataannya, kegiatan itu tidak sepenuhnya benar. Ia hanya ingin pergi ke tempat yang seumur hidupnya selalu dilarang oleh orang tuanya. Tempat itu bernama “Hutan Lupa”. Rumor hanyalah rumor, pikir Joan. Belum tentu rumor yang dikatakan orang lain adalah benar. Untuk alasan itu, ia membuktikannya sendiri.

Kakak beradik itu berjalan tanpa tahu arah. Joan beberapa kali meminta untuk beristirahat dikarenakan punggungnya terasa sakit.
“Kau sudah membawa peralatan paling ringan!” bentak Andrian. “Jangan manja, lihat saja tas punggungku, ukurannya 3 kali lipat dibandingkan kau.” Andrian berputar untuk menunjukkan tas berisi peralatan kemah, termasuk tenda dan alas tidur. Terlihat seperti punuk unta, pikir Joan menahan tawa. Tidak mungkin ia tertawa. Tidak setelah ia berkali-kali membuat ulah yang melibatkan Andrian dan membuatnya kerepotan.

“Tunggu!” raut wajah Joan terlihat serius sekarang. “Aku mendengar sesuatu … seperti … air?” Joan sendiri meragukan pendengarannya, namun di hutan yang terasa semakin gelap ini, panca indra adalah senjata utama untuk bertahan.

Joan mulai berlari, mencari di mana titik suara tersebut kian terdengar, Andrian juga secara tak sadar mengikuti Joan.
Mereka terus berlari, tanpa berbicara sepatah kata pun, hingga pemandangan menyajikan sebuah danau.

Danau biru, dengan air terjun di sisinya. Bebatuan besar dan … beberapa sosok yang membuat kedua kakak beradik itu menelan ludah.

Kakak beradik itu berhenti serentak, Joan tertegun, dan bergerak mundur. Seketika itu pula, sosok-sosok tadi melihat ke arah mereka.
Bagi Joan, sosok itu tampak seperti putri duyung—dengan tubuh bagian kepala hingga perut yang menyerupai sosok wanita berambut panjang serta tubuh bagian bawah yang menyerupai ekor ikan berbias cahaya sehingga menimbulkan kemilau pelangi di sisiknya.

Namun Joan menyadari, ada yang aneh dari aura mereka. Tepatnya, raut wajah mereka yang misterius. Sementara di belakang Joan, Andrian mulai maju perlahan.

Salah satu dari putri duyung tadi, mulai membuka mulutnya, mengeluarkan nyanyian yang merdu. Sangat merdu dan indah. Suara itu membuat Joan dan Andrian terpana, mereka mulai bergerak maju.

Joan dan Andrian seakan tidak sadar dengan pergerakan mereka. Terutama Joan, ia tidak sadar bahwa ada akar besar yang mencuat dari tanah. Joan maju perlahan, namun akar besar itu membuatnya tersandung dan jatuh.

Joan yang tersungkur mencium tanah, mendongakkan kepala dan membetulkan letak kacamatanya. Kesadarannya mulai kembali, ia tahu sebuah kisah tentang putri duyung yang membuatnya lekas menutup telinga.

“HEY! ANDRIAN! SADAR!” Joan berteriak agar Andrian tidak terus berjalan dengan tatapan kosong ke arah para putri duyung tadi. Ia berusaha bangkit sambil tetap menutup telinga. Sangat sulit, sampai akhirnya ia berhasil. Segera ia berusaha berlari ke arah Andrian, mencoba untuk menarik saudaranya kembali, namun ia menyadari bahwa separuh tubuh Andrian sudah berada di dalam air danau.

“Sial!” pekiknya, saat melihat salah satu dari putri duyung tadi menghampiri Andrian.

Putri duyung yang sedari tadi bernyanyi kini sudah menghentikan nyanyiannya, dan ikut menghampiri tubuh Andrian yang separuh sadar.

Sementara putri duyung yang sudah berada tepat di hadapan Andrian, meraih tubuh Andrian, dan memeluknya. Tak lama, putri duyung tadi tersenyum, memperlihatkan gigi-gigi runcing dan lekas menggigit leher Andrian.

“Orghhh!” Andrian seakan kembali sadar, ia mencoba bergerak saat menyadari sudah ada empat putri duyung yang mengepungnya.

Joan merasa kakinya sangat lemas. Ia mundur perlahan dan berlari menjauh dari danau tadi. Tak sadar, air matanya perlahan menetes. Joan terus berlari, dan beberapa kali terjatuh karena tersandung akar pohon atau bebatuan. Ia berlari. Terus berlari tanpa arah, hanya mengandalkan instingnya.

Sampai instingnya membawa tubuhnya ke perbatasan hutan, di pinggir jalan raya.

“Aku selamat!” teriaknya senang diiringi rasa bersalah. Ia mengenal jalan raya ini. Tidak jauh dari jalan raya akan ada terminal bus, dan dirinya bisa sampai di rumah dengan selamat. Yeah, hanya dia yang selamat.

***

Selama di dalam bus, Joan berpikir keras. Ia tidak tahu bagaimana cara menyampaikan kejadian mengerikan yang menimpa saudaranya itu. Orang tuanya pasti akan marah besar, terlebih kecewa karena dibohongi. Hukuman urusan belakangan, pikir Joan. Ia harus memberi tahu rahasia “Hutan Lupa” kepada masyarakat.
Joan bersiap untuk berdiri dari duduknya. Pemberhentian di depan kompleks dirinya tinggal sudah dekat.

***

Joan berdiri di depan pintu rumahnya, menekan bel berkali-kali, namun tidak ada jawaban. ‘Apakah mereka sedang ada urusan?’ batin Joan, menenangkan diri.

Hari sudah malam dan lampu rumah menyala terang. Mungkinkah orang tua Joan belum pulang? Joan kerap menekan bel sampai terdengar bunyi ‘Klek’ dari gagang pintu yang diputar.

Adalah ayahnya yang menyambut Joan dengan wajah bingung.

“Maaf, ada keperluan apa?” tanya laki-laki berambut putih yang menggunakan piama warna putih.

“Apa yang kau katakan, Dad? Aku tahu kau akan marah soal ini, tapi setidaknya biarkan aku memberi penjelasan …,” Joan tergagap saat mendapati tingkah laku aneh dari ayahnya.

“Siapa itu, Sayang?” tanya seorang wanita yang juga memakai piama tidur berwarna putih. Ia berjalan mendekat ke pintu.

“Entahlah, anak ini … hei! Siapa tadi yang kau panggil Dad, hah? Apa kau sudah gila?”

Joan tidak bisa menyembunyikan kekalutan di wajahnya. “Tapi … hei, Mom, Dad, ini aku, Joan, putra kalian!”

“Kau menghina kami, hah? Apa kau mengejek aku dan istriku karena tidak mempunyai seorang anak pun di usia setua ini? Persetan kau gelandangan! Pergi sana!” itu ucapan terakhir dari pria yang dipanggil Dad oleh Joan, sebelum ia membanting pintunya.

Pintu terbuka lagi, menampakkan wajah wanita berbalut piama tadi. “Sebaiknya kau cepat pergi, dia memang agak sensitif akhir-akhir ini. Cepatlah, sebelum dia memanggil polisi,” ucapnya sebelum menutup pintu kembali.

Joan tidak bisa berkata-kata. Ia bingung, takut, sekaligus kalut. Terlebih ia harus mencari cara sekarang. Mencari cara agar ia bisa memberitahu kepada dunia bahwa legenda dari “Hutan Lupa” itu benar adanya. Bahwa jika seseorang bisa kembali dengan selamat dari hutan itu, maka orang tersebut akan menghilang dari ingatan semua orang yang dia kenal. Dengan kata lain, dilupakan.

Sekarang Joan hanya berpikir untuk mencari cara memberi tahu ke semua orang tentang realita dari “Hutan Lupa” itu.
Namun sekarang ia bingung. Ia mencoba berpikir, apa rahasia dari “Hutan Lupa” itu? Apa yang membuat orang lain dilupakan?

"Lagipula, mengapa aku pergi ke hutan itu, sendirian?" kini Joan mulai berbicara sendiri.




SC : Lucifer creepypasta indonesia

CREEPYPASTA : Sister

Saudariku selalu berteriak pada tengah malam. Jeritan yang mengerikan, memekak telinga! Namun tak ada yang bisa kuperbuat agar ia berhenti.

Pada saat itu aku sudah berbaring di kasur, mulai merasa ‘melayang’ dan memasuki alam mimpi, namun tiba-tiba jeritan dari saudariku masuk dalam mimpi itu.

Saudariku menangis untukku, ia menangis untuk seseorang. Aku tidak bisa menolongnya, tidak ada yang dapat kulakukan untuk membuat ia berhenti.

Suatu hari, aku membawakannya beberapa tangkai bunga Lavender segar. Aku berharap aroma dari Lavender itu dapat menenangkannya. Aku menutup mata untuk beberapa saat, namun ia masih tetap berteriak.

Apa yang dapat kulakukan untukmu, Saudariku? Mengapa kau terus berteriak? Apa yang membuatmu takut? Jika kau tidak mau memberitahuku, maka, tidak ada yang dapat kulakukan.

Suatu malam, saat aku merasa jeritan ini sudah keterlaluan, aku bangun dari tidurku. Aku akan menghentikan jeritannya, aku bersumpah. Aku berjalan menuju tempat tidurnya dan berlutut tepat di atas tubuhnya.

Berhenti menjerit. Kubilang, BERHENTI MENJERIT!

Aku menatapnya, namun tidak dapat melihatnya. Ini terlalu gelap dan … ada jarak di antara kami.

BERHENTI MENJERIT!

Akhirnya ia berhenti, namun sepertinya itu hanya karena ia tahu, ada orang lain di sana.

Sekarang ia lebih tenang. Ia tidak ingin mereka tahu jika dia di sana.

Ibu menyuruhku untuk kembali ke tempat tidur. Ia bilang, aku harus berhenti untuk datang dan melihat saudariku tiap malam.

Namun, tidakkah kau mendengar jeritannya, Bu?

Mungkin ibu memang tidak bisa. Hanya aku yang bisa.

Sekarang saudariku pura-pura tertidur. Aku bangun dan membersihkan lututku yang kotor oleh tanah akibat berlutut di atas kuburan saudariku.

Saudariku beristirahat di peti matinya. Ia mati, namun masih terus menjerit.



sc : spookypasta